Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label (a) Mushaf Tulis Tangan. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Harga Qur'an

Berapakah Harga Sebuah Manuskrip Qur'an 
pada Masa Lampau?

Informasi tentang harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau cukup langka. Saya memperoleh riwayat dari Pak Lukman (60-an tahun), asal Losari, Cirebon - sejak menikah tinggal di Cakung, Jakarta Timur. Pak Lukman mengatakan (1-9-2021) bahwa ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kakeknya (buyutnya Pak Lukman, bernama Yahya, seorang kiai di Losari) mengatakan bahwa mushaf miliknya dibeli dengan seekor kerbau! Semasa kecilnya, Pak Lukman sempat melihat mushaf tersebut, namun sayangnya, sekarang tidak tahu lagi di mana. Jika diperkirakan bahwa satu generasi itu 30 tahun, maka Kiai Yahya hidup pada akhir abad ke-19.
Mushaf Qur'an koleksi Elang Panji Jaya, Cirebon.

Nah, saya searching di internet, harga seekor kerbau saat ini (2021) sekitar Rp20 - 25 juta. Maka bisa dibayangkan, betapa mahalnya harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau! Memang, mushaf bukan manuskrip yang tipis. Mushaf biasanya terdiri atas 600 halaman lebih. Maka bisa dibayangkan mahalnya biaya produksi untuk naskah setebal itu! Biaya produksi, paling kurang, terdiri atas bahan (baik dari dluwang atau kertas eropa), plus biaya penyalinan 600-an halaman yang dikerjakan selama beberapa bulan, atau bahkan tahunan! (Tentang berapa lama sebuah mushaf disalin, lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/08/penyalinan-quran.html; http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/08/mencetak-quran.html).
Mengenai harga sebuah mushaf lainnya pada masa lampau, catatan H von de Wall sangat jelas, menyatakan bahwa mushaf cetakan litograf Palembang tahun 1854 dijual oleh Muhammad Azhari, pencetaknya, seharga 25 gulden per buah (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Padanan nilai gulden pada masa itu dengan rupiah saat ini belum begitu pasti, namun bisa diperkirakan bahwa harga tersebut sangat mahal.
Abdul Hakim, seorang kawan peneliti mushaf, juga meriwayatkan (5-9-2021), berdasarkan informasi orang setempat, bahwa di Cikijing, Majalengka, harga manuskrip Qur'an dahulu  seharga kerbau. Sedangkan di Madura, seharga sapi.
Kita bisa bayangkan, dengan mushaf seharga kerbau atau sapi, tentu mushaf merupakan barang yang cukup langka. Tidak semua muslim bisa memiliki mushaf. Meminjam untuk membaca Qur'an pun bukan perkara mudah, karena menyangkut harga barang semahal itu. Bisa dibayangkan, betapa 'sulit'-nya orang zaman dahulu untuk membaca Qur'an.  Meskipun demikian, berdasarkan beberapa catatan dalam mushaf, ada banyak muhsinin yang mewakafkan mushaf untuk masjid. Beberapa mushaf di Masjid Agung Surakarta (sekarang menjadi koleksi khusus) adalah wakaf dari Paku Buwono X dan muslim lainnya. Juga di beberapa mushaf asal Aceh, Sulawesi Selatan, dan daerah lainnya terdapat catatan wakaf. Kita bisa membayangkan betapa besar nilai wakaf tersebut. 
Jika kita bandingkan dengan harga pasar manuskrip Qur'an saat ini, sebenarnya harga seekor kerbau di atas dapat dikatakan wajar. Harga sebuah manuskrip Qur'an saat ini, di pasaran barang antik, kurang lebih seharga itu juga, sekitar Rp20-25 juta untuk mushaf kualitas biasa. 

Artikel terkait
thumbnail

Sumatera Utara

Manuskrip Al-Qur’an di Sumatera Utara: Menelusuri Asal Usul

Pengantar untuk Katalog Mushaf Al-Qur'an Kuno di Sumatera Utara
Penyusun: Ichwan Azhari dan Candiki Repantu
Medan: LPTQ Sumatera Utara, 2018

Alhamdulillah, akhirnya ditemukan juga sejumlah manuskrip Al-Qur’an di Sumatera Utara! Selama beberapa tahun penelusuran manuskrip Al-Qur’an di Indonesia, sejak tahun 2003 hingga belakangan ini, 2018, di Sumatera Utara tidak—atau tepatnya belum—ditemukan manuskrip Al-Qur’an. Para peneliti dari Puslitbang Lektur Keagamaan yang pertama kali melakukan penelusuran naskah-naskah Al-Qur’an di Sumatera Utara hanya menemukan sebuah mushaf tua cetakan India di Masjid Al-Mashun, Medan. Beberapa tahun kemudian, ketika penelusuran naskah Al-Qur’an dilanjutkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, para peneliti juga tidak memperoleh informasi keberadaan mushaf, hingga kini. 
Katalog Mushaf di Sumatera Utara.


Oleh karena itu, sejumlah temuan manuskrip yang dimuat dalam katalog ini menjadi sangat penting, dan layak memperoleh apresiasi yang tinggi. Hal ini tidak lepas dari perjuangan Dr. Phil. Ichwan Azhari dan kolega di Rumah Sejarah Medan yang tak kenal lelah mencari informasi keberadaan mushaf, lalu mengumpulkan dan mendeskripsi sejumlah temuan mushaf Al-Qur’an ini—di samping temuan naskah dan artefak lainnya.

Temuan baru manuskrip Al-Qur’an ini menjadi lebih berarti lagi ketika Sumatera Utara pada 2018 kebetulan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVII. Eksistensi sejarah kesultanan dan masyarakat muslim di Sumatera Utara menjadi lebih lengkap dengan adanya temuan sejumlah mushaf baru ini.
Katalog ini memuat 16 mushaf yang ditemukan di Sumatera Utara. Ke-16 mushaf tersebut—dua di antaranya tafsir—merupakan koleksi dua dosen Universitas Negeri Medan (UNIMED) yakni Bapak Ichwan Azhari dan Ibu Rahmadewi serta koleksi Bapak Candiki Repantu dari Yayasan Islam Abu Thalib Medan. Sebagai wilayah yang memiliki sejarah Islam yang panjang, Sumatera Utara sebenarnya patut diduga memiliki sejumlah koleksi mushaf yang banyak. Oleh karena itu, dengan penerbitan katalog ini, kita berharap nanti akan muncul lagi sejumlah manuskrip lainnya yang barangkali saat ini masih banyak di tangan masyarakat.

Asal Usul
Katalog ini telah mendeskripsi manuskrip Al-Qur’an dengan sangat lengkap, dilakukan oleh Bapak Candiki, seorang pengkaji Islam yang berpengalaman luas. Semua aspek kodikologi mushaf telah digambarkan dengan baik dan sangat detail. Demikian pula aspek tekstualnya, menyangkut ulumul-Qur’an, yaitu rasm, ḍabṭ, dan qira’at,  juga tak lepas dari uraian yang sangat terperinci. Dari uraian tersebut kita memperoleh gambaran utuh tentang sebuah mushaf.
Meskipun demikian, untuk melengkapi katalog ini, barangkali ada satu hal yang bisa ditambahkan dalam katalog ini, yaitu tentang asal usul mushaf. Membaca katalog ini kita belum memperoleh gambaran tentang sejarah atau asal usul mushafnya.
Seperti zaman sekarang, sejak dahulu masyarakat mempunyai mobilitas yang tinggi, dapat berpindah atau bermigrasi dari suatu tempat ke tempat lainnya. Demikian pula manuskrip atau artefak lainnya. Perpindahan suatu naskah atau mushaf dapat karena hadiah, jual beli, pewarisan, atau sebab lainnya. Oleh karena itu, bila kita menemukan sebuah manuskrip di suatu tempat, tidak selalu berarti bahwa manuskrip tersebut disalin di tempat itu. Perlu telaah perbandingan yang teliti lebih dahulu. Meskipun demikian, pada umumnya, keberadaan suatu manuskrip sering berkaitan secara historis dengan tempat ditemukannya.
Mushaf SU AQ01/ICH
Sejumlah mushaf yang ditemukan di Sumatera Utara ini memperlihatkan keragaman asal usul mushaf. Dugaan ini berdasarkan iluminasi, kaligrafi, tata letak, atau aspek lainnya. Mushaf SU AQ01/ICH misalnya, iluminasinya memperlihatkan ciri Melayu secara umum, dengan gaya Pantai Timur, antara Terengganu dan Patani yang cukup kuat (lihat Gallop, 2005). Meskipun motif dan iluminasinya menceriminkan gaya Pantai Timur, namun warna dan tata letak halaman isi mushaf cukup berbeda. Dari segi warna, biasanya gaya Pantai Timur menonjol dalam penggunaan emas atau kuning, sementara dalam mushaf ini tidak begitu dominan. Di pihak lain, tata letak halaman isi yang tidak lebar dan terkesan vertikal, lebih mencerminkan kebiasaan dalam beberapa mushaf asal Sumatera Barat. Oleh karena itu, manuskrip ini mencerminkan tradisi mushaf Melayu secara umum, sesuai dengan wilayah Sumatera Utara sebagai wilayah kesultanan Melayu yang sangat penting.
Mushaf SU AQ02
Mushaf SU AQ02/ICH mencerminkan tradisi mushaf Minangkabau yang sangat kuat, seperti tampak pada gaya iluminasi, warna, dan tata letak halaman isi mushaf. Penggunaan blok panel motif floral yang meruncing di bagian atas, tepi-luar, dan bawah iluminasi; warna merah dominan yang digores ritmis; serta tata letak halaman teks ayat yang menyisakan tepi halaman kosong yang cukup lebar, semuanya mencerminkan asal usul mushaf ini yang cukup kuat.
Mushaf SU AQ03/ICH, AQ05/ICH, AQ11/RD, AQ13/RD memperlihatkan tradisi mushaf Lombok (lihat Akbar, 2011; Mustopa, 2017). Ketiga mushaf terakhir, berturut-turut merupakan bagian dari 5 jilid mushaf lengkap. Sementara SU AQ04/ICH, AQ07/ICH, AQ10/RD, dan AQ14/CR memperlihatkan tradisi mushaf Jawa (lihat Gallop, 2012; Akbar, 2006; Akbar, 2018; Hakim, 2015). Adapun Mushaf SU AQ09/RD tampaknya bersesuaian dengan tradisi mushaf Madura (lihat Hakim, 2016), seperti terlihat pada motif floral iluminasi bagian atas, tepi-luar, dan bawah. Kesesuaian motif akan sangat mungkin mencerminkan kesamaan asal usul suatu manuskrip. Akan lebih kuat lagi jika ada dukungan ‘bukti-bukti’ lainnya seperti warna, tinta, kertas, kaligrafi, jilidan, atau aspek lainnya. Mushaf ini merupakan koleksi Ibu Rahmadewi yang juga memiliki beberapa manuskrip lainnya dalam kumpulan ini.
Antara mushaf Jawa—selain Banten, karena memiliki ciri tersendiri (Gallop dan Akbar, 2006), Madura, dan Lombok memiliki kedekatan dalam tradisi mushaf. Ketiga wilayah ini banyak menggunakan dluwang sebagai alas tulis. Di samping itu, gaya iluminasinya juga memperlihatkan kedekatan, biasanya menggunakan bentuk-bentuk segitiga di bagian atas, tepi-luar, dan bawah iluminasi. Mushaf-mushaf Jawa, Madura dan Lombok kini tersebar di sejulah museum, perpustakaan dan koleksi pribadi di negara-negara jiran, juga Australia, bahkan Eropa.
Mushaf yang juga menarik untuk didiskusikan adalah SU AQ06/ICH. Ini satu-satunya mushaf yang memiliki kolofon—dan oleh karena itu problematis, karena angka yang tercantum kurang jelas. Seperti yang terbaca dalam katalog ini, Bapak Candiki yang mendeskripsi mushaf-mushaf dalam katalog ini ‘menawarkan’ bacaan angka tahun 1074 H (1663 M) (lihat gambar di bawah). Kolofon dalam naskah ini sebenarnya disertai pembilangan dalam bentuk kata-kata, namun tampaknya sang penyalin kurang menguasai bahasa Arab, sehingga sulit dipahami, dan bisa jadi ada bagian yang khilaf tidak ditulis.
Menurut penulis, penulisan angka ‘nol’ pada kolofon ini perlu dicermati lagi—memang di sinilah titik krusialnya. Penulisan angka ‘nol’ di bawah ini tampak tidak spontan, tidak sekali gores, sebagaimana angka ‘tujuh’ dan ‘empat’ di sebelahnya. Tampak jelas ada penggoresan ulang dalam penulisan angka tersebut, sebagai koreksi, sehingga bentuk angka ‘dua’ menjadi lebih terlihat. Jadi penulis berpendapat bahwa angka yang lebih meyakinkan adalah 1274 H (1857 H). Hal ini juga mempertimbangkan kertas mushaf ini, ProPatria, tidak ber-shadowpada chain lines (garis tebal), yang pada umumnya di Nusantara digunakan pada abad ke-19. Kertas Eropa sebelum abad ke-19 biasanya memiliki karakter khusus, terkadang tebal sehingga cap kertas tidak nyata, atau sebaliknya tipis, dan biasanya ber-shadow pada chain lines-nya. 
Tarikh penyalinan SU AQ06/ICH.
Menutup pengantar singkat ini, kiranya perlu sekali lagi dicatat besar-besar bahwa temuan sejumlah mushaf dalam katalog ini sangat penting bagi pengetahuan kita tentang mushaf Nusantara. Jumlah mushaf kuno yang kini masih dapat kita saksikan menjadi lebih banyak, dan pengetahuan kita tentang masa lalu sedikit demi sedikit menjadi lebih lengkap.
Dalam catatan penulis, sebelum ini, Sumatera Utara merupakan salah satu di antara provinsi yang belum memiliki koleksi manuskrip Al-Qur’an. Dengan temuan baru ini, dari 34 provinsi di Indonesia, ada lima provinsi yang hingga kini belum diketahui secara pasti ‘memiliki’ koleksi mushaf kuno, yaitu Provinsi Bengkulu, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua. Semoga tidak lama lagi akan ditemukan juga mushaf-mushaf kuno di wilayah itu.
Selamat mengkaji lebih lanjut!
Jakarta-Bogor, 19 September 2018

Daftar Pustaka

Akbar, Ali. 2006. “Tradisi Lokal, Tradisi Timur Tengah, Dan Tradisi Persia-India: Mushaf-Mushaf Kuno Di Jawa Timur.” Lektur4(2): 242–61.
———. 2011. “Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Lombok.” In Perkembangan Mushaf, Terjemahan, Dan Tafsir Di Indonesia, ed. Ali Akbar. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 7–13.
Gallop, Annabel Teh. 2005. “The Spirit of Langkasuka? Illuminated Manuscripts from the East Coast of the Malay Peninsula.” Indonesia and the Malay World 33(96): 113–82.
———. 2012. “The Art of the Qur’an in Java.” Suhuf 5(2): 215–29.
Gallop, Annabel Teh, and Ali Akbar. 2006. “The Art of the Qur’an in Banten: Calligraphy and Illumination.” Archipel 72: 95–156.
Hakim, Abdul, ed. 2015. Ragam Hias Mushaf Al-Qur’an Nusantara. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
———. 2016. “Penyalinan Al-Qur’an Kuno Di Sumenep.” Suhuf 9(2): 343–62. http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/160/141.
Mustopa. 2017. “Mushaf Kuno Lombok: Telaah Aspek Penulisan Dan Teks.” Suhuf10(1): 1–24. http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/215/146.
thumbnail

Tradisi Mushaf NTB

Antara Keraton dan Masyarakat
Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat. 
Katalog.
Berdasarkan penelusuran berbagai koleksi, baik di Pulau Lombok, Sumbawa, dan tempat lainnya, terkumpul 29 naskah mushaf seperti yang terkumpul dalam katalog ini. Tentu jumlah ini merupakan angka sementara, karena masih ada koleksi di tangan masyarakat yang belum terdokumentasi. Ke-29 mushaf yang terhimpun dalam katalog ini diklasifikasi dalam lima kelompok, yaitu mushaf asal Kesultanan Bima 2 naskah, mushaf asal Kesultanan Sumbawa 5 naskah, mushaf koleksi Museum Negeri NTB di Mataram 15 naskah, koleksi mushaf yang tersebar di beberapa tempat 5 naskah, serta 2 naskah tambahan lainnya merupakan cetakan Singapura abad ke-19 yang disalin oleh penulis asal Sumbawa.
Secara garis besar, sejumlah koleksi mushaf dalam katalog ini menggambarkan adanya dua tradisi dalam mushaf di NTB, yaitu tradisi keraton yang diwakili oleh beberapa mushaf dari Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa, dan tradisi masyarakat seperti yang dapat dilihat dalam sejumlah koleksi mushaf di Museum Negeri NTB dan beberapa mushaf lainnya, termasuk yang saat ini masih di tangan masyarakat, serta sebuah Qur'an asal Lombok Utara yang saat ini menjadi koleksi Art Gallery of South Australia di Adelaide, Australia.
Bagian awal katalog menampilkan sejumlah contoh mushaf Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa. Mushaf-mushaf ini, yang sejak zaman dahulu disimpan di keraton, menjadi bahan bandingan yang penting untuk melihat keragaman tradisi mushaf dari kawasan ini. Bagian selanjutnya menampilkan contoh-contoh mushaf yang berkembang di masyarakat Lombok.
Bagian akhir katalog ini menyertakan dua mushaf cetakan litografi Singapura. Dua mushaf tersebut layak disertakan di sini untuk menggambarkan kontribusi dan kehebatan penyalin asal Nusa Tenggara yang pada paruh akhir abad ke-19 menjadi penulis mushaf Al-Qur’an di negeri Singapura. Kedua penyalin dengan tulisan indah itu bernama, seperti yang tertulis di kolofon, yaitu Haji Muhammad bin al-marhum Sulaiman Sumbawi dan Muhammad Hanafi bin Sulaiman as-Sumbawi. 

Mushaf Kesultanan Bima.

Mushaf Kesultanan Sumbawa.

Koleksi Museum Negeri NTB, Mataram. 

Koleksi AGSA, Adelaide, Australia.

Mushaf cetakan Singapura, abad ke-19.

Artikel terkait:
thumbnail

Qur'an dari Palembang

Mushaf Gaya 'Pantai Timur'


Menyaksikan 'Pameran Peradaban Islam' (demikian temanya) yang digelar dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 30 Juli - 6 Agustus 2016, ada satu pajangan yang menarik di anjungan Sumatera Selatan. Senang sekali, saya diberi izin untuk membuka Qur'an tua di dalam kaca itu. Inilah catatannya. 
Ukuran mushaf 30,5 x 20 cm, tebal 6 cm. Kertas Eropa, cap kertas ProPatria, Concordia, dengan cap tandingan ‘Van Gelder’. 15 baris per halaman. Tinta hitam, merah untuk kepala surah, tanda tajwid, garis bingkai, dan lingkaran tanda ayat. Sampul kulit coklat dengan hiasan cap timbul. Mushaf lengkap, terdapat beberapa halaman kosong di bagian depan dan belakang. Kondisi naskah sampai dengan Surah Ali ‘Imran cukup bagus, namun halaman-halaman selanjutnya, hingga bagian akhir mushaf, rusak parah karena kertas dimakan tinta yang mengandung zat besi.
Halaman iluminasi awal mushaf, sebagian bersepuh tinta emas.

Medalion di pias luar halaman menghiasi tanda juz dan nisf. Iluminasi yang indah bergaya ‘pantai timur’ (Semenanjung Malaysia) terdapat di bagian awal, tengah (Surah al-Isra’) dan akhir mushaf. Naskah Qur’an ini disimpan oleh Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Sumatera Selatan, pemberian seorang pegawai Kanwil Kementerian Agama Sumatera Selatan. Melihat cap kertasnya, mushaf ini diperkirakan dari pertengahan abad ke-19. Keberadaan mushaf ini Palembang menandakan bahwa persebaran mushaf gaya ‘pantai timur’ cukup luas, terutama meliputi wilayah negeri-negeri Melayu dari Semenanjung Malaysia, Riau, Palembang, Pontianak, hingga Batavia.
(Mengenai gaya khas 'pantai timur', lihat: https://www.academia.edu/1607240/The_spirit_of_Langkasuka_Illuminated_manuscripts_from_the_East_Coast_of_the_Malay_Peninsula). 

(Catatan: Terima kasih kepada Pak Wilman yang mengizinkan saya memotret mushaf).








Halaman iluminasi akhir mushaf.


thumbnail

Qur'an Sumbawa

Menelusuri Qur’an Kuno Sumbawa
Catatan Perjalanan

Untuk menuju Pulau Sumbawa, dari Jakarta, tidak ada penerbangan langsung. Pesawat mendarat di Mataram, dan perjalanan selanjutnya menggunakan angkutan travel, berupa minibus dengan 11 penumpang. Mobil yang saya tumpangi merapat di pelabuhan menuju Sumbawa tepat waktu, beberapa saat sebelum pintu feri ditutup. Langit masih menyisakan biru, sebelum pelan-pelan meredup jadi kemerahan. Para penumpang travel semua turun dari mobil, menyebar entah ke mana. Saya sempat meminta tolong kepada supir bahwa nanti saya dicarikan hotel di dekat “Istana Tua” – suatu istilah yang baru saya tahu tadi ketika mencari tiket travel. Istana Tua adalah sebutan untuk bekas istana Kerajaan Sumbawa.
Dari atas feri menuju Pulau Sumbawa.


Di feri, saya memilih tempat di tingkat atas, di bagian depan, agar bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Saya kira perjalanan menyeberang ke Pulau Sumbawa hanya sebentar saja. Rupanya memakan waktu cukup lama, dua jam, hingga lepas magrib. Gelap, dan bintang-bintang mulai tampak bertebaran. Akhirnya feri merapat di Pulau Sumbawa pada pukul tujuh malam. Dari pelabuhan, perjalanan masih sekitar dua jam lagi untuk sampai Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa.
Sepanjang perjalanan dari Jakarta tidak ada kesulitan apa pun, karena mobil travel mencarikan penginapan, dan mengantar saya hingga pintu hotel. Alhamdulillah.
Esok paginya, meski terasa agak capek, karena harus ‘mengirit waktu’, saya langsung bergerak. Sasaran pertama adalah Istana Tua. Dahulu Sumbawa merupakan kerajaan yang cukup kuat, berlangsung sekitar tiga abad, dan bekasnya masih terasa hingga kini (lihat “Peninggalan Kesultanan Sumbawa”). Di istana tua rupanya tidak ada koleksi apa-apa selain tandu dan sejumlah repro foto dari zaman Belanda. Oleh petugas yang ada di situ saya diarahkan untuk ke Balla Kuning, kediaman Sultan. “Balla” dalam bahasa Bugis berarti rumah. Benar saja, kediaman sultan itu berwarna kuning, dengan arsitektur zaman Belanda yang masih terjaga. Namun Sultan sendiri tidak berdiam di sini sehari-hari, dan rumah pusaka ini ditinggali oleh keluarga kesultanan.

Qur’an kuno Sumbawa
Beruntung, di Balla Kuning saya bisa bertemu dengan Bapak Lalu Khotot Purwa Priana. Ibunya, Hj. Nindo Siti Rahayu adalah kakak dari Sultan Sumbawa saat ini (lihat “Sultan Sumbawa Kini”). Tidak berbelit, setelah berkenalan, Pak Lalu Khotot segera menunjuki saya sebuah Qur’an beriluminasi indah. “Qur’an ini belum lama dikonservasi di Perpustakaan Nasional, Jakarta,” tutur Pak Khotot. Konservasi yang dimaksud adalah dengan cara dilaminasi, yaitu dilapisi kertas khusus untuk melindungi kertas aslinya yang sudah rapuh. Memang permukaan Qur’an menjadi agak buram, tidak sejelas aslinya. Namun dengan konservasi, mushaf ini sekarang menjadi lebih kuat dan bisa dibuka dengan leluasa.
Mushaf ini disalin tahun 1785 pada masa Sultan Harun ar-Rasyid (memerintah 1777-1791). Ditulis oleh penyalin keturunan Bugis bernama Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi – demikian ia menulis nama dirinya (lihat “Tiga Kolofon Qur’an Sumbawa”). Tak pelak, memang mushaf beriluminasi indah pada bagian awal, tengah, dan akhir ini mempunyai pengaruh Bugis yang kuat, khususnya terlihat pada penulisan teks Qur’annya. Adapun dalam motif ragam hiasnya, tampak berbeda dengan umumnya ragam hias Bugis.

Halaman iluminasi awal mushaf, disalin oleh Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi, 1785.

Halaman iluminasi akhir mushaf.

Qur’an kuno Sumbawa kedua disalin 53 tahun kemudian oleh Abdurrahman bin Ayub bin Abdul Baqi as-Sumbawi, selesai pada 1838. Tidak seperti mushaf pertama yang ditulis oleh penyalin keturunan Bugis, Qur’an kedua ini ditulis oleh penyalin tempatan, tampak dari gelarnya, as-Sumbawi. Dari segi ciri penulisan teks, mushaf ini memang berbeda dengan mushaf pertama. Uniknya, setiap kata pertama pada awal surah selalu ditulis besar. Di samping itu, beberapa kata tertentu juga ditulis besar – sebagai suatu penekanan tertentu – seperti kata Muhammad, Ahmad, allāhumma, Bismillāh, salām, dan Surah al-Ikhlas. Model seperti ini sangat jarang terjadi dalam penyalinan mushaf di dunia Islam. Mushaf yang ditulis dengan rapi ini disimpan oleh Ibu Lala Mahtera, keluarga kesultanan di kompleks Istana Dalam Loka. Disayangkan, halaman beriluminasi indah di awal mushaf kini telah dilakban, sehingga dalam waktu beberapa tahun mendatang, akan merusak kondisi mushaf.
 Halaman iluminasi awal mushaf, disalin oleh Abdurrahman bin Ayub bin Abdul Baqi as-Sumbawi, 1838.

Selain dua Qur’an di atas, menurut penelusuran sebelumnya yang dilakukan oleh Ahmad Rahman dan Asep Saefullah dari Puslitbang Lektur Keagamaan pada tahun 2005, di Balla Kuning juga disimpan sebuah mushaf yang disalin di Mekah oleh Abdurrahman bin al-Marhum Musa as-Sumbawi pada 1864, yaitu 26 tahun setelah mushaf yang kedua. Mushaf ini cukup indah, membuktikan bahwa Tana Samawa pernah melahirkan para penyalin mushaf yang hebat. Itu juga dibuktikan dengan dua mushaf lain yang ditulis pada 1867 dan 1869 oleh Haji Muhammad bin al-Marhum Sulaiman as-Sumbawi yang dicetak di Singapura.
Kenyataan bahwa mushaf yang ketiga ini disalin di Mekah, membuktikan bahwa jaringan ulama Sumbawa dengan Timur Tengah, pada paruh kedua abad ke-19, terjalin dengan baik. Bahkan tidak hanya dalam hal keilmuan, menurut Pak Lalu Mahmud Abdul Majid, keluarga kesultanan, dahulu Sumbawa juga mengirim kayu sepang, kayu manis, dan sarang burung walet ke Tanah Suci. Di pihak lain, pada masa sebelumnya, jaringan dengan sesama ulama Nusantara juga terjalin dengan baik, khususnya dengan ulama Bugis dari Sulawesi Selatan. Hubungan itu memang tidak diragukan, sebab kontak budaya antara keduanya telah terjadi selama ratusan tahun.

Terkunci di lemari
Beberapa hari di Sumbawa, hingga hari terakhir, timbul rasa gêlo (Jawa: menyesal) yang mendalam karena saya hanya menjumpai dua Qur’an kuno. Pak Lalu Mahmud memberi informasi bahwa saudaranya, di Kampung Pekat, menyimpan sebuah Qur’an kuno. Namun saudaranya itu tengah berkunjung ke Mataram, selama beberapa hari, sehingga tidak mungkin saya menunggu lebih lama. Selain itu, sebenarnya di istana Balla Kuning juga terdapat tiga Qur’an yang disimpan di sebuah lemari. Namun lemari itu terkunci, dan tidak seorang pun tahu di mana kuncinya. Akhirnya saya menyerah.
Pesawat Garuda yang saya tumpangi untuk pulang ke Jakarta mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sesampai di rumah, dengan santai saya hubungi Pak Mahmud melalui telepon untuk sekadar memberi tahu bahwa saya sudah sampai di Jakarta dan ingin mengucapkan terima kasih karena telah membantu pada waktu saya di Sumbawa. Dengan suara agak keras dan terburu-buru, Pak Lalu Mahmud berkata, “Wa’alaikum salam, Pak Ali sekarang di mana? Kuncinya sudah ditemukan!” []

-------------------------------------------------------
Tiga Kolofon Qur'an Sumbawa

Kolofon (bahasa Inggris: colophon) adalah catatan pada naskah kuno yang biasanya berupa informasi tentang tarikh penyalinan, nama penyalin, pemrakarsa, dan sebagainya. Biasanya terletak di bagian akhir naskah. Kebanyakan naskah kuno Nusantara tidak memiliki kolofon, namun ada tiga mushaf dari Sumbawa yang memiliki catatan yang cukup lengkap, sehingga kita dapat mengetahui nama penyalin dan tarikh penyalinannya. Ketiga kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab, menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Arab para penyalin mushaf cukup baik. Sebuah kolofon pada naskah Qur'an yang disimpan di istana Balla Kuning, artinya:

“Selesai menyalin mushaf yang mulia ini hari Ahad pada waktu duha 28 Zulqa’dah di negeri Sumbawa pada zaman Maulana Sultan Muhammad Harun ar-Rasyid bin Sultan Muhammad Iqamuddin bin Sultan Muhammad Abdurrahman tahun 1199 hijrat Nabi [2 Oktober 1785] pemilik keutamaan selawat dan kesucian salam dengan khatt yang faqir, yang hina, yang mengakui dosa dan kekurangannya, yang mengharapkan ampunan Tuhannya Yang Mulia, Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi, Syafi’i mazhabnya, Sumbawa negerinya, kelahirannya, dan tanah airnya. Semoga Allah mengampuni mereka, kedua orang tua mereka, dan semua kaum muslimin. Amin. Saya meninggal, tulisanku abadi, itulah doaku.”

Kolofon  Qur'an Kesultanan Sumbawa, tahun 1785 (di dalam lingkaran).

Kolofon Qur'an lainnya, yang disimpan oleh Ibu Lala Mahtera, artinya:

“Selesai menyalin Al-Qur’an yang agung ini dengan pertolongan Allah, Raja yang Mulia, pada hari Kamis 24 Muharram tahun Zai 1254 Hijri [19 April 1838] dengan khat hamba yang paling fakir Abdurrahman bin Ayub bin Abdul Baqi as-Sumbawi semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya juga bagi kedua orang tuaku dan seluruh kaum muslimin. Amin.”

Kolofon Qur'an Kesultanan Sumbawa, tahun 1838 (kiri bawah).

Kolofon Qur'an lainnya, yang disimpan di Balla Kuning, menyatakan bahwa Qur'an ini disalin di Mekah. Bagian awal catatan naskah ini telah rusak sehingga tidak terbaca. Ditulis dalam bahasa Arab, artinya:

“... di negeri ... Makkah yang mulia, yang masyhur, pada bulan Sya’ban yang penuh berkah, pada hari Jumat waktu duha tahun seribu dua ratus delapan puluh Hijrahnya yang memiliki keagungan dan kemuliaan 1280 [Januari-Februari 1864] dengan tangan yang faqir kepada Tuhannya Yang Kaya, Abdurrahman bin al-marhum Musa as-Sumbawi, semoga Allah mengampuni kami, kedua orang tua kami, para pemimpin kami, serta seluruh muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang hidup dan yang telah wafat. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Amin.

-----------------------------------------------------
Peninggalan Kesultanan Sumbawa

Ikon kerajaan yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Balla Rea (dalam bahasa Bugis berarti “rumah besar”) di kompleks Istana Tua, yang biasa disebut Istana Dalam Loka. Balla Rea merupakan rumah panggung raksasa, istana kesultanan Sumbawa, didirikan 1885 oleh Sultan Muhammad Jalaluddin III (memerintah pada 1883-1931). Kayu jati penopang istana ini berjumlah 99 (sesuai Asma’ul Husna), masing-masing dengan diameter sekitar 50 cm. Di istana ini dahulu tinggal keluarga inti Sang Sultan, beserta beberapa keluarga dekatnya. Istana ini ditempati oleh kerabat kesultanan hingga tahun 1977. Istana berlantai dua ini, setelah dipugar beberapa tahun lalu, menjadi museum yang mengukuhkan identitas orang Sumbawa. 
Di sebelah istana dahulu berdiri masjid kerajaan. Namun masjid dengan arsitektur kayu yang berdiri kokoh itu telah dibongkar total, pada tahun 1995, hampir tanpa sisa. Satu-satunya sisa adalah mimbar masjid, yang kini disimpan di Museum Daerah. Menurut penuturan Lalu Mahmud Abdul Majid, keluarga kesultanan, dahulu masjid mempunyai saka tunggal, berupa kayu jati besar, dengan ketinggian menjulang sekitar 25 meter. “Saya melihat sendiri, kayu itu dirobohkan begitu saja, tanpa ada yang peduli. Dan kayu itu tidak diketahui entah ke mana, sebab ketika saya tanyakan kepada pemborong pembangunan masjid baru, mereka menghindar.” sesalnya. Namun ia merasa agak lega, karena masih bisa menyelamatkan salah satu tinggalan masjid lama, yaitu mimbar. Saat ini, mimbar berukir dengan angka tahun 1299 H (1881) itu menjadi koleksi Museum Daerah Sumbawa.
Tinggalan kesultanan Sumbawa lainnya adalah dua buah tandu yang dahulu digunakan pada upacara adat. Kini disimpan di Balla Rea. Di samping itu, terdapat pula sejumlah kotak berukir, kini menjadi koleksi Museum Daerah, bersama mimbar masjid.

Istana Dalam Loka, kompleks istana raja Sumbawa.

Bala Rea, istana sultan Sumbawa (tampak depan).

Bagian dalam istana.

Mimbar berukir Masjid Sumbawa, tahun 1881, koleksi Museum Daerah.

--------------------------------------------------
Sultan Sumbawa Kini

Sultan pertama yang memimpin Tana Samawa (sebutan untuk wilayah kesultanan Sumbawa yang kini mencakup Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat) adalah Dewa Mas Pamayam (memerintah 1648-1668). Sejak itu, selama 3 abad lebih, kesultanan Sumbawa diperintah oleh 16 sultan, terakhir adalah Sultan Muhammad Kaharuddin III (memerintah 1931-1958).  Setelah vakum selama 53 tahun, Kesultanan Sumbawa, sejak tiga tahun lalu, mempunyai sultan lagi, yaitu Sultan Muhammad Kaharuddin IV, sebagai sultan Sumbawa ke-17. Haji Daeng Muhammad Abdurrachman Kaharuddin, SE, MBA, yang biasa dikenal dengan Daeng Ewan, dinobatkan pada tanggal 5 April 2011, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-70.
Kedudukan Sultan di zaman kini mempunyai arti penting dalam perspektif budaya, yaitu untuk memperkuat identitas Sumbawa di tengah perkembangan kehidupan global agar tidak mudah tercerabut dari akarnya. Penobatan sultan itu juga sangat penting dan bermakna bagi rakyat Sumbawa (Tau Samawa) yang memegang teguh nilai-nilai budaya Sumbawa yang bersendikan syara’ dan Kitabullah (adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko Kitabullah) untuk keselamatan masyarakat dan alam Sumbawa (krik selamat tau ke tana Samawa). Pada posisi itu, Sultan diharapkan menjadi figur panutan untuk memperkokoh kehidupan sosial dan menjaga adat Sumbawa.

Sultan Muhammad Kaharuddin IV, dinobatkan pada 5 April 2011. (Foto: Repro).

thumbnail

Pengaruh Turki

Pengaruh Qur’an Turki Usmaniyah di Asia Tenggara

Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmaniyah di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmaniyah (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Usmaniyah dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmaniyah yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
Jika Anda ingin memperoleh pdf artikel saya di buku ini, sila email saya: aliakbar.kaligrafi@gmail.com
Sampul buku.

Pada awalnya, artikel tersebut saya tulis sebagai makalah untuk workshop “From Anatolia to Southeast Asia” di IAIN ar-Raniry Banda Aceh, 11-12 Januari 2012. Makalah tersebut merupakan bagian dari keikutsertaan saya dalam proyek penelitian “Islam, Trade and Politics across the Indian Ocean” yang didanai oleh British Academy selama 2009-2012, dan dikelola oleh British Institue at Ankara (BIAA) dan Association of South-East Asian Studies in the UK (ASEASUK), bekerja sama dengan International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Aceh (lihat: http://www.ottomansoutheastasia.org/). Hasil dari proyek penelitian ini dipamerkan secara keliling di beberapa kota di Inggris, Turki, dan Indonesia (sekarang masih bisa dilihat di Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta).
Deskripsi lengkap:
FROM ANATOLIA TO ACEH: Ottomans, Turks, and Southeast Asia
Edited by Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop
Oxford University Press/British Academy | Proceedings of the British Academy Vol. 200
300 pages | 22 illustrations | 234x156mm
978-0-19-726581-9 | Hardback | 05 February 2015
Price:  £70.00






Artikel terkait: