Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label (b) Mushaf Cetakan Awal. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Johor

Tiga mushaf cetak koleksi Yayasan Warisan Johor

Mushaf Al-Qur’an cetak koleksi Yayasan Warisan Johor merupakan ‘warisan’ dari Masjid Sultan Abu Bakar, masjid kesultanan Johor, yang berlokasi tidak jauh dari Yayasan. “Ketika Qur’an-Qur’an lama yang sudah tidak dipakai lagi akan dibakar, kami selamatkan beberapa yang masih bagus, dan kita simpan di Yayasan ini,” demikian kata Mazlan bin Keling, Penolong Pegawai Tadbir Yayasan (14/1/2020). Untunglah mushaf-mushaf ini bisa diselamatkan, sehingga bisa mengisi mata rantai sejarah penggunaan mushaf di Johor—atau Malaysia secara lebih luas. Mushaf-mushaf lainnya telah musnah menjadi abu.
 Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru.

Sebelum ‘era mushaf Saudi’, yaitu sebelum dasawarsa 1980/1990, mushaf yang beredar di Malaysia sama dengan mushaf yang beredar di Indonesia—juga umumnya di Asia Tenggara—yaitu mushaf-mushaf Indo-Pakistan. “Orang Johor menyebut mushaf berhuruf tebal seperti ini ‘Qur’an Majid’,” kata Ustaz Nazir, pensyarah di Kolej Pengajian Islam Johor (MARSAH). Di sampulnya, mushaf yang dahulu dicetak di Bombay itu memang biasanya tertulis ‘Qur’an Majid’. Di Indonesia, biasanya disebut ‘Qur’an Bombay’. "Namun saat ini, di Malaysia tidak dibenarkan menggunakan mushaf jenis ini. Harus menggunakan Mushaf Madinah," sambung Ustaz Nazir. 
Agar mata rantai sejarah mushaf di Tanah Melayu tidak terputus, tiga mushaf cetakan di bawah ini menjadi penting untuk ditengok kembali. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi penelitian lebih lanjut.
1. Mushaf berukuran 24,5 x 17 cm, tebal 4 cm. Di sampul warna biru tertulis ‘Qur’an Majid’. Di bagian depan terdapat uraian tajwid dan adab membaca Qur'an sebanyak 14 halaman dalam huruf Jawi. Mushaf ini dicetak oleh Dar at-Tiba'ah al-Islamiyah. Tampaknya ini merupakan pencetak lokal Nusantara, namun tidak mencantumkan kota dan tahun terbitan. Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay.
Beberapa halaman penjelasan tajwid dalam huruf Jawi.

Cetakan Dar at-Tiba'ah al-Islamiyah al-Arabiyah.

2. Mushaf cukup besar, berukuran 37 x 26 cm, tebal 7 cm, sampul kulit. Di bagian depan mushaf tertulis catatan dalam huruf Jawi: "(1) Qur'an ini hadiah daripada waris Allah yarham ... Haji Qasim Batupahat. (2) Allah yarham  itu telah kembali ke rahmatullah ta'ala di Batupahat dalam tahun 1933. Qur'an ini baharu diperbaiki, yaitu dijahit semula kerana telah putus tali jahitnya. ..." Tertanggal 9-11-55. Di bagian depan tercantum bahwa mushaf ini merupakan cetakan Matba' Muhammadi Bombay, 1303 H (1885). Rasm Usmani, dan iluminasi awal mushaf berwarna. Melihat kualitas cetakan warnanya, tampak bahwa mushaf ini merupakan hasil reproduksi pada awal abad ke-20 dari mushaf cetakan lama (1885). Namun kita tidak menemukan angka tahun lain, sehingga kita belum bisa memastikan tahun cetakan secara pasti.



3. Mushaf cukup besar, berukuran 36 x 26,5 cm, tebal 5 cm, sampul kain. Di bagian depan mushaf tertulis catatan dalam huruf Jawi: "Diwakafkan oleh Hajah L-l-b-y(?) bint Muhammad Qasim, ibu kepada Allah yarham Muhammad Hasyim bin Ghulam Muhyiddin atas Masjid Abu Bakar Johor Baharu. Telah diterima pada hari ini 23-11-58." Rasm Usmani, dan iluminasi awal mushaf berwarna. Di halaman depan mushaf tercantum "Matba' Muhammadi Bombay, 1374 H (1954)", sedangkan di bagian akhir mushaf tercantum kolofon bahwa mushaf ini ditulis pada 1302 H (1884), dan dicetak pada 1354 H (1934). Artinya, bahwa mushaf ini merupakan reproduksi cetakan lama, yang ditulis pada masa yang lebih lama lagi... 
[Inilah rumitnya (dan asyiknya?) meneliti mushaf cetakan!]




Artikel terkait:
thumbnail

Singapura

Mushaf di Masjid Sultan Singapura

Jika Anda memegang kamera dan menemui sesuatu yang Anda anggap penting, sebaiknya langsung dijepret! Bisa jadi, itu satu-satunya kesempatan, dan tidak ada kesempatan kedua! Hehe... Dan saya merasa beruntung, pada awal bulan Maret 2019 lalu ketika berkunjung ke Masjid Sultan Singapura sempat memotret beberapa mushaf lama yang ada di masjid terkenal ini. Nah, awal November 2019, ketika saya berkunjung lagi ke masjid ini, mushaf-mushaf tersebut sudah tidak ada lagi, entah di mana. Namanya mushaf tua, kapan saja bisa dipindahkan, bahkan, kapan saja bisa dimusnahkan... 
Dalam bahasa Jawa ada istilah "Qur'an amoh (rusak)". Kata-kata ini juga kadang digunakan untuk menyebut sesuatu yang tidak ada manfaatnya lagi, tapi membuangnya adalah mustahil. Tidak bisa digunakan lagi, karena sudah rusak, tapi menjaganya juga 'sia-sia', akan membuang waktu dan tenaga ... 
Oleh karena itu, jadi masuk akal, Qur'an amoh itu biasanya dibakar! Ini cara yang paling lazim untuk memusnahkan benda mulia yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Kita sering mendengar santri atau pengurus masjid bercerita pengalamannya membakar Qur'an yang sudah usang. Jadi, Qur'an tua yang masih bisa kita saksikan sekarang adalah sesuatu yang istimewa: itulah Qur'an yang 'selamat'!
Baik, inilah beberapa mushaf tua yang pernah menghiasi rak dan digunakan di Masjid Sultan Singapura. Siapa tahu bisa digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
Masjid Sultan dan kawasan Kampung Gelam dilihat dari Village Bugis Hotel.


Mushaf terbitan Taj Company Limited, Lahore, Karachi, Rawalpindi, Pakistan.



Mushaf "Tarjamah Melayu", Penerbit Firma Sumatera, Bandung.

"Mushaf Standar Indonesia, nusikha 'ala ar-Rasm al-'Usmani"

Terjemahan Melayu huruf Jawi antarbaris.

Mushaf cetakan Matba' Muhammadi, Bombay.


Disertai pendahuluan ilmu tajwid dalam bahasa Melayu aksara Jawi.


Sayang sekali, bagian penerbit ini tidak jelas, tampaknya sengaja dihapus... 
Tetapi dari hurufnya, jelas bahwa mushaf ini cetakan Pakistan.


Mushaf cetakan Matba'ah Abdullah wa Awladuhu, Patani, Thailand Selatan. 
Mushaf ini banyak terdapat juga di masjid-masjid di Thailand Selatan.


Yang satu ini mushaf baru, "Mushaf Resam Uthmani" terbitan Karya Bestari, Selangor, Malaysia, 
dengan khat Usman Taha, penulis Mushaf Madinah, Saudi Arabia. 


Disertai ucapan terima kasih kepada panitia Konferensi 'From Kampong Kaji to the Holy City', Taman Warisan Melayu, 1-2 Maret 2019, khususnya Suhaili Othman dan rekan-rekan.


thumbnail

Karakter tulisan

Jangan langsung percaya! (11)
Tahun penulisan dalam Qur’an cetakan

Meneliti Qur’an cetakan—sebenarnya begitu juga manuskrip—jangan mudah percaya... Sebuah mushaf yang mungkin dicetak oleh Mustafa al-Babi al-Halabi, Mesir—kita pun tidak tahu, apakah ini cetakan ulang oleh penerbit lain atau bukan—mencantumkan pada kolofon di bagian akhir mushaf bahwa mushaf tersebut selesai ditulis oleh Hafiz Usman pada 1299 H (1881). Itu jelas mustahil, karena kaligrafer jenius Turki Usmani itu hidup pada abad ke-17 (1642-1698) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.co.id/2016/08/hafiz-usman.html)!
Nah, kita perlu mempertimbangkan karakter tulisan. Tampak bahwa angka tahun '1299' di bagian bawah kolofon itu ditambahkan oleh orang berbeda, dan pada masa yang berbeda. Karakter tulisannya tidak sama dan tampak begitu sederhana, tidak sesuai kaidah kaligrafi standar. Seorang kaligrafer hebat pasti tidak akan menulis angka '2' dalam bentuk yang biasanya digunakan dalam tulisan sehari-hari.
Kolofon di akhir mushaf.

Goresan angka '2' yang 'tidak standar'.

Artikel terkait:
thumbnail

Tradisi Mushaf NTB

Antara Keraton dan Masyarakat
Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat. 
Katalog.
Berdasarkan penelusuran berbagai koleksi, baik di Pulau Lombok, Sumbawa, dan tempat lainnya, terkumpul 29 naskah mushaf seperti yang terkumpul dalam katalog ini. Tentu jumlah ini merupakan angka sementara, karena masih ada koleksi di tangan masyarakat yang belum terdokumentasi. Ke-29 mushaf yang terhimpun dalam katalog ini diklasifikasi dalam lima kelompok, yaitu mushaf asal Kesultanan Bima 2 naskah, mushaf asal Kesultanan Sumbawa 5 naskah, mushaf koleksi Museum Negeri NTB di Mataram 15 naskah, koleksi mushaf yang tersebar di beberapa tempat 5 naskah, serta 2 naskah tambahan lainnya merupakan cetakan Singapura abad ke-19 yang disalin oleh penulis asal Sumbawa.
Secara garis besar, sejumlah koleksi mushaf dalam katalog ini menggambarkan adanya dua tradisi dalam mushaf di NTB, yaitu tradisi keraton yang diwakili oleh beberapa mushaf dari Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa, dan tradisi masyarakat seperti yang dapat dilihat dalam sejumlah koleksi mushaf di Museum Negeri NTB dan beberapa mushaf lainnya, termasuk yang saat ini masih di tangan masyarakat, serta sebuah Qur'an asal Lombok Utara yang saat ini menjadi koleksi Art Gallery of South Australia di Adelaide, Australia.
Bagian awal katalog menampilkan sejumlah contoh mushaf Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa. Mushaf-mushaf ini, yang sejak zaman dahulu disimpan di keraton, menjadi bahan bandingan yang penting untuk melihat keragaman tradisi mushaf dari kawasan ini. Bagian selanjutnya menampilkan contoh-contoh mushaf yang berkembang di masyarakat Lombok.
Bagian akhir katalog ini menyertakan dua mushaf cetakan litografi Singapura. Dua mushaf tersebut layak disertakan di sini untuk menggambarkan kontribusi dan kehebatan penyalin asal Nusa Tenggara yang pada paruh akhir abad ke-19 menjadi penulis mushaf Al-Qur’an di negeri Singapura. Kedua penyalin dengan tulisan indah itu bernama, seperti yang tertulis di kolofon, yaitu Haji Muhammad bin al-marhum Sulaiman Sumbawi dan Muhammad Hanafi bin Sulaiman as-Sumbawi. 

Mushaf Kesultanan Bima.

Mushaf Kesultanan Sumbawa.

Koleksi Museum Negeri NTB, Mataram. 

Koleksi AGSA, Adelaide, Australia.

Mushaf cetakan Singapura, abad ke-19.

Artikel terkait:
thumbnail

Pengaruh Turki

Pengaruh Qur’an Turki Usmaniyah di Asia Tenggara

Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmaniyah di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmaniyah (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Usmaniyah dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmaniyah yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
Jika Anda ingin memperoleh pdf artikel saya di buku ini, sila email saya: aliakbar.kaligrafi@gmail.com
Sampul buku.

Pada awalnya, artikel tersebut saya tulis sebagai makalah untuk workshop “From Anatolia to Southeast Asia” di IAIN ar-Raniry Banda Aceh, 11-12 Januari 2012. Makalah tersebut merupakan bagian dari keikutsertaan saya dalam proyek penelitian “Islam, Trade and Politics across the Indian Ocean” yang didanai oleh British Academy selama 2009-2012, dan dikelola oleh British Institue at Ankara (BIAA) dan Association of South-East Asian Studies in the UK (ASEASUK), bekerja sama dengan International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Aceh (lihat: http://www.ottomansoutheastasia.org/). Hasil dari proyek penelitian ini dipamerkan secara keliling di beberapa kota di Inggris, Turki, dan Indonesia (sekarang masih bisa dilihat di Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta).
Deskripsi lengkap:
FROM ANATOLIA TO ACEH: Ottomans, Turks, and Southeast Asia
Edited by Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop
Oxford University Press/British Academy | Proceedings of the British Academy Vol. 200
300 pages | 22 illustrations | 234x156mm
978-0-19-726581-9 | Hardback | 05 February 2015
Price:  £70.00






Artikel terkait:
thumbnail

Mencetak Qur'an

Berapa lamakah mencetak Qur’an pada masa lampau?

Kita patut bersyukur bahwa dari kolofon (catatan naskah) Qur’an cetakan tertua di Indonesia—dan juga di Asia Tenggara—kita bisa memperoleh informasi tentang jumlah cetak dan lama mencetak Qur'an pada zaman dahulu. Berapa lamakah?
Kolofon di akhir Qur'an dalam tulisan Jawi (Arab-Melayu).

Pada pertengahan abad ke-19, dengan teknik litografi, dalam 50 hari mampu menghasilkan 105 Qur’an. Jadi dalam satu hari bisa menghasilkan dua Qur’an tiga juz. Tentu ini jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan menulis Qur’an secara manual yang memakan waktu beberapa bulan untuk satu Qur’an (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/08/penyalinan-quran.html).
Qur’an cetakan Palembang ini selesai dicetak pada hari Senin, 21 Ramadan 1264 H (21 Agustus 1848 M). Dicetak oleh Ibrahim bin Husin asal Singapura, di percetakan milik Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah. Ukuran naskah 30 x 20 cm, tebal 3 cm, 607 halaman. Setiap juz terdiri atas 20 halaman. Kolofon pada dua halaman akhir mushaf cetakan ini sangat lengkap:
Halaman kedua kolofon.

Sebermula adalah mengecap Al-Qur'an al-‘Azim ini di atas Paris-lithographique yakni di atas impitan batu dengan khat suratan faqir ila Allahi ta’ala al-Haji Muhammad Azhari ibnu Kemas al-Haj Abdullah, Palembang nama negerinya, Syafi’i mazhabnya, Asy’ari itikadnya, Junaidi ikutannya, Sammani minumannya. Maka adalah yang mengerjakan cap ini Ibrahim ibnu Husain, Sahab Nagur nama negerinya Singapura tempat kediamannya daripada murid tuan Abdullah ibnu Abdulkadir Munsyi Malaka. Telah selesailah daripada mengecap dia pada hari Senin duapuluh satu hari daripada bulan Ramadan atas rukyat negeri Palembang pada hijrah Nabi – sallallahu ‘alaihi wa sallama – seribu dua ratus enam puluh empat tahun 1264. Maka membetuli pada dua puluh satu hari bulan Agustus tarikh Masehi seribu delapan ratus empat puluh delapan tahun (1848) dan enam belas hari bulan Misra tarikh Kubti seribu lima ratus enam puluh empat tahun (1564) dan sembilan hari bulan Ab tarikh Rumi dua ribu seratus lima puluh // sembilan tahun (2159) dan dua puluh empat hari bulan Isfandar mah tarikh Farsi seribu dua ratus tujuh belas tahun (1217). Maka adalah banyak bilangan Qur’an yang dicap itu seratus lima Qur’an. Maka perhimpunan mengerjakan dia lima puluh hari, jadi di dalam satu hari dua Qur’an tiga juz, dan tempat mengerjakan cap itu di dalam daerah negeri Palembang di dalam kampung tiga ulu pihak kiri mudik kampung demang Jayalaksana Muhammad Najib ibnu almarhum demang Wiralaksana Abdulkhaliq. Mudah-mudahan mengampuni Allah – subhanahu wa ta’ala – bagi mereka yang menyurat dia dan yang mengerjakan dia dan yang membaca akan dia dan bagi segala ibu bapak mereka itu dan segala muslim laki-laki dan perempuan dan bagi segala ibu bapak mereka itu. Wa sallallahu ‘ala khairi khalqihi sayyidina Muhammad wa alihi wa sahbihi wa sallam.

[Terima kasih dan salam takzim untuk H. Abd Azim Amin, Palembang, pemilik Qur’an bersejarah ini].

Artikel terkait:
thumbnail

Lagi, Qur'an kecil

Lagi, dua Qur’an kecil

Rupanya, artikel singkat tentang Qur'an mini (http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/quran-kecil.html) memperoleh perhatian yang cukup luas dari khalayak pembaca. Banyak orang 'penasaran' dengan mushaf kecil. Nah, berikut adalah dua Qur’an kecil koleksi baru Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal yang merupakan sumbangan Ibu Siti Rofiqoh, Bogor, dan Ibu Yusi Herawati, Depok. 
Qur’an yang sering disebut “Qur’an Istanbul” atau “Stambul” ini, yang pertama berukuran 1,8 x 2,7 cm. Setiap halaman terdiri atas 12 baris. Naskah asli Qur'an ini ditulis oleh kaligrafer kenamaan Turki Usmani abad ke-17, Hafiz Usman (1642-1698), selesai pada pertengahan Rabiul Awal 1094 H (Maret 1683). Tidak ada keterangan kapan mushaf ini dicetak, karena bagian akhir mushaf mini ini telah hilang. Namun, diperkirakan, dicetak pada abad ke-20.
Mushaf kecil, cetakan, ukuran 1,8 x 2,7 cm.

Mushaf kecil yang kedua berukuran 2 x 3,4 cm. Mushaf yang setiap halaman terdiri atas 11 baris itu ditempatkan di dalam kotak logam dengan ‘jendela’ kaca pembesar di bagian depan. Naskah asli mushaf ini disalin oleh penyalin yang sama, Hafiz Usman. Sebagai seorang kaligrafer profesional ia menghasilkan beberapa mushaf. Mushaf ini selesai disalin pada awal Sya’ban 1097 (Juni 1686), tiga tahun setelah mushaf yang pertama di atas. Dicetak di Percetakan Usmaniyah (al-Matba’ah al-Usmaniyah) pada Ramadan 1304 H (Juni 1887). Kaligrafi mushaf ini, rupanya, hampir sama dengan mushaf karya Hafiz Usman lainnya yang dicetak di Matba'ah Usmaniyah, Sya'ban 1298 H (Juni/Juli 1881) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-turki-1881-mushaf-ini.html). Meskipun demikian, bila diamati lebih teliti, tidak sama persis, dan telah mengalami sejumlah modifikasi pada huruf-huruf tertentu karena adanya perbedaan tanda ayat. Saya menduga bahwa modifikasi itu bukan dilakukan oleh Hafiz Usman, tetapi oleh kaligrafer lain dalam proses percetakan di Percetakan Usmaniyah pada akhir abad ke-19.
Sementara, mushaf karya Hafiz Usman lainnya dapat dilihat di http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/quran-kecil.html). Mushaf yang juga dicetak kecil ini setiap halaman terdiri atas 17 baris.
Dalam ‘urusan’ mushaf mini ini sebenarnya masih menimbulkan pertanyaan, apakah mushaf kecil ini benar dicetak pada akhir abad ke-19, ataukah dicetak pada abad ke-20? Meskipun pada mushaf kecil itu tertulis dicetak tahun 1887, namun masih perlu dikaji lebih lanjut, karena dua hal. Pertama, apakah teknologi cetak pada akhir abad ke-19 sudah bisa mendukung produksi mushaf sekecil itu? Kedua, bisa jadi percetakan tidak mengubah teks naskah ketika memproduksi mushaf kecil dari yang sebelumnya dicetak dalam ukuran standar atau biasa. Dalam dunia percetakan hal itu sangat mungkin terjadi.
Teks terbaca, mutu cetak mushaf pertama cukup baik.

Mushaf kecil kedua, dengan kotak pelindung berkaca. 


Halaman Surah al-Fatihah. Iluminasi mushaf sangat jelas berciri Usmani.

Surah al-Fatihah.

Artikel terkait: