Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label -Kaligrafi. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Mushaf Aceh

Kaligrafi Floral

Aceh adalah salah satu contoh yang baik untuk kaligrafi floral yang banyak ditulis (atau dilukis?) oleh seniman naskah Nusantara. Dalam mushaf asal Aceh yang kira-kira ditulis pada abad ke-19 ini, kaligrafi floral La ilaha illallah ditulis di setiap pojok iluminasi mushaf. Di sini tampak kalimat tersebut menyatu dengan hiasan bermotif floral di sekitarnya. Tidak hanya dalam naskah, di Aceh model kaligrafi seperti ini juga ditemukan pada ukir kayu. Kaligrafi gaya floral seperti ini merupakan bagian dari khazanah kaligrafi Nusantara yang memiliki keunikan tersendiri.


 Halaman iluminasi tengah mushaf, awal juz ke-16. (Foto: Masykur)


 Kaligrafi floral La ilaha illlallah (detail).

  Kaligrafi floral La ilaha illlallah (detail).

Artikel terkait:
thumbnail

Kaligrafi Qur'an Banten

Ciri khas kaligrafi Qur’an Banten

Naskah-naskah Qur’an Banten memiliki ciri khat Naskhī yang dapat dikatakan istimewa dalam tradisi penyalinan mushaf Nusantara―sesuatu yang belum ditemukan dalam tradisi kaligrafi di wilayah lain. Dari beberapa mushaf yang ada, kita dapat menemukan “gaya tulisan Banten”.
Secara umum, para penyalin Qur'an di Banten pada masa lalu dapat dikatakan cukup konsisten dengan gaya Naskhī khasnya, dan gaya khat ini ditemukan di sejumlah naskah di beberapa tempat. Khat tersebut terlihat tidak hanya untuk menulis teks Al-Qur'an, yang biasanya dianggap lebih istimewa, namun juga untuk menulis terjemahannya dalam bahasa Jawa (PNRI A.54).
 
Mushaf Banten koleksi PNRI (A.50). (Foto atas kebaikan James Bennett).

PNRI A.50 

Dalam corak pertama, yaitu naskah-naskah Perpustakaan Nasional RI Jakarta (PNRI) A.50, A.51 dan W.278 (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/banten-mushaf-asal-banten-koleksi.html#more), yang tampak segera adalah ekor waw dan ra’ yang tidak menjulur ke bawah, tetapi agak naik ke atas. Huruf dal dan zal akhir ditarik langsung dari bagian atas garis vertikalnya, dan tidak dari bagian bawahnya seperti lazimnya dalam kaidah penulisan kaligrafi yang populer. Ini merupakan ciri khas gaya Naskhī Persia―demikian pula dalam Naskhī India, karena kemiripan keduanya cukup dekat. Bentuk huruf dal tunggal cukup sederhana, dan dapat dibandingkan dengan Naskhi Persia. Ciri lain pun tampak dalam huruf ha’ dalam kata hum yang hanya berupa bulatan bagian bawah. Penulisan huruf ha’ seperti ini lazim dalam kaligrafi Persia, termasuk dalam khat Fārisī. Kemudian titik huruf zal akhir sering diletakkan di tengah garis lengkungnya.

PNRI A.52

Selanjutnya, naskah-naskah Banten koleksi PNRI A.52, A.53, dan A.54 (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/banten-2-koleksi-perpustakaan-nasional.html#more) yang merupakan corak kedua dari gaya Naskhī Banten. Sebenarnya, gaya Naskhī dalam ketiga naskah ini juga mempunyai ciri umum yang tidak jauh berbeda dengan ketiga naskah yang kita bandingkan di atas. Secara umum terlihat jelas benang merahnya, hanya saja beberapa bagian tampak cukup menonjol perbedaannya, misalnya yang paling kuat adalah ekor waw, ra’ dan mim akhir yang ditarik menjulur turun. Gejala tersebut berbeda dengan ketiga naskah lainnya yang pada huruf yang sama umumnya ditarik mendatar atau agak ke atas. Ciri-ciri di atas juga tampak dalam dua buah Al-Qur'an yang ditemukan di Banten sendiri.
Gaya Naskhī Banten corak kedua ini cukup dekat kepada gaya Muhaqqaq yang berciri utama menjulurkan dengan lepas ekor-ekor huruf waw, ra’, dan mim akhir. Muhaqqaq merupakan suatu gaya yang selama berabad-abad banyak dipakai untuk menyalin Al-Qur'an secara luas, terutama di kawasan India, Persia, Irak, dan Mesir. Khat NaskhīBanten corak kedua ini dipakai di beberapa mushaf, paling tidak tiga mushaf di PNRI, dan dua mushaf di Banten.
Sesuatu yang patut disayangkan, sampai saat ini belum terungkap bagaimana tradisi penyalinan naskah itu berlangsung di Banten pada masa dahulu, misalnya di mana dan bagaimana keadaan skriptoriumnya. Dari beberapa mushaf Banten koleksi PNRI, demikian pula di beberapa tempat yang merupakan koleksi masyarakat di Banten sendiri, terlihat benang merah ciri khas tulisannya, dan itu menunjukkan bagaimana tradisi tulis tersebut diwariskan dengan baik.
Naskah-naskah Qur'an Banten, selain koleksi Perpustakaan Nasional RI, juga terdapat di beberapa tempat di Banten, serta Museum Institut PTIQ, Jakarta. Temuan lainnya, baru-baru ini, juga terdapat di Perpustakaan Iman Jama, Jakarta. Koleksi di dua lembaga terakhir ini bukan merupakan mushaf lengkap, tetapi hanya terdiri atas beberapa kuras (kelompok lembaran), dalam ukuran naskah cukup besar, seperti halnya mushaf-mushaf Banten lain pada umumnya. 
Lebih lanjut, juga terkait dengan aspek iluminasinya, silakan lihat artikel Annabel Teh Gallop dan Ali Akbar, “The art of the Qur’an in Banten: Calligraphy and Illumination” (Archipel 72, Paris 2006, pp. 95-156): http://www.persee.fr/web/revues/home/prescript/article/arch_0044-8613_2006_num_72_1_4028

Artikel terkait:
thumbnail

Seni mushaf Nusantara

Seni mushaf Nusantara dari masa ke masa
Ali Akbar - aliakbarkaligrafi@yahoo.com

Mushaf Al-Qur'an disalin sesuai dengan ruang dan waktu mushaf itu dibuat. Atau dengan kata lain, sesuai dengan latar budaya dan kondisi zamannya. Lokalitas budaya tempat mushaf disalin merupakan faktor yang ikut menentukan dan mempengaruhi variasi bentuk, motif dan warna iluminasi – demikian pula gaya kaligrafinya, dalam taraf tertentu.

Unsur kreativitas lokal, sebagai hasil serapan budaya setempat, terlihat dalam corak iluminasi yang sangat beragam, dan masing-masing daerah memiliki ciri khas sendiri. Iluminasi biasanya dicirikan dengan (1) pola dasar, (2) motif hiasan, dan (3) warna. Iluminasi lazimnya menghias tiga bagian Al-Qur'an, yaitu di awal, tengah, dan akhir Al-Qur'an. Dalam hal kaligrafi, keunikan mushaf Nusantara di antaranya tampak dalam karakter “kaligrafi berhias” atau “kaligrafi floral”, yaitu komposisi kaligrafi yang bermotif tetumbuhan. Kreativitas tulisan tersebut dituangkan khususnya pada kepala-kepala surah. Unsur kreativitas lokal itu, baik dalam iluminasi maupun kaligrafi, berkembang sangat leluasa dan berkarakter khas, bahkan dalam bentuk makhluk "zoomorphic" seperti Macan Ali khas Cirebon.
 Mushaf dari Sumedang, Jawa Barat, dengan gambar Macan Ali. (Courtesy of James Bennett)
Penyalinan Al-Qur'an secara manual terus berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung di berbagai kota atau wilayah penting masyarakat Islam masa lalu, seperti Aceh, Riau, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Ambon, dan Ternate. Warisan penting masa lalu tersebut kini tersimpan di berbagai museum, perpustakaan, pesantren, ahli waris, dan kolektor, dalam jumlah yang masih cukup banyak.
Pada abad ke-19, dengan berkembangnya teknologi percetakan litografi (cetak batu), penyalinan Al-Qur'an di Nusantara secara tradisional pelan-pelan mulai ditinggalkan, dan beralih pada Al-Qur'an cetak. Al-Qur'an cetak awal (early printed Qur'an) berasal dari India, Singapura dan Palembang, sejak pertengahan abad ke-19, di samping Turki dan Mesir. Namun, karena distribusi Al-Qur'an cetak awal pada waktu itu tidak merata di seluruh wilayah Nusantara, penyalinan Al-Qur'an secara manual diperkirakan masih berlangsung hingga penghujung abad ke-19, atau tahun-tahun awal abad ke-20. Sejak saat itu, seiring dengan perkembangan teknologi percetakan yang sangat pesat, penyalinan Al-Qur'an secara manual ditinggalkan, dan tradisi seni Mushaf yang telah berlangsung selama berabad-abad di Nusantara bisa dikatakan telah terhenti.
Setelah hampir satu abad terhenti, sejak akhir abad ke-19, era baru dalam kreativitas seni mushaf tumbuh kembali sejak pembuatan Mushaf Istiqlal pada tahun 1991, yang diprakarsai oleh beberapa ahli dari ITB Bandung, seperti Mahmud Buchari, Prof. AD Pirous, Ir. Ahmad Noe’man, dan beberapa sarjana serupa lainnya. Pembuatan Mushaf Istiqlal itu berbarengan dengan penyelenggaraan Festival Istiqlal tahun 1991 dan 1995 di Jakarta. Mulai saat itu, gairah dalam pembuatan mushaf indah tampak tumbuh kembali, dan sampai saat ini telah ada beberapa mushaf, dalam bentuk naskah asli dan cetakan, yaitu Mushaf Sundawi (prakarsa Pemda Jawa Barat, 1997), Mushaf at-Tin (prakarsa keluarga mantan Presiden Soeharto untuk mengenang Ibu Tien, 2000), Mushaf Jakarta (prakarsa Pemda DKI Jakarta, 2002), Mushaf Kalimantan Barat (prakarsa Pemda Kalbar, 2003), dan Mushaf al-Bantani (prakarsa Pemda Banten, 2010). Semangat itu juga melahirkan gagasan untuk merekonstruksi dan memodifikasi mushaf lama seperti Mushaf Karaton Yogyakarta Hadiningrat (2011) yang didasarkan pada sebuah mushaf pusaka keraton.
Berbeda dengan seni mushaf pada zaman dahulu yang keseluruhannya dibuat secara manual, “mushaf-mushaf kontemporer” ini dibuat dengan memanfaatkan teknologi komputer. Namun, keduanya sama-sama indah, mencerminkan kekayaan khazanah budaya bangsa Indonesia.*
thumbnail

Mushaf Kalimantan Barat

Mushaf Kalimantan Barat

Menyusul pemerintah daerah Jawa Barat yang membuat "Mushaf Sundawi" (1997) dan DKI Jakarta membuat "Mushaf Jakarta" (2000), Kalimantan Barat membuat mushaf dengan ragam hias khas Kalimantan Barat. Mushaf "Kalimantan Barat" diprakarsai oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Asfar Aswin, mulai ditulis pada 4 Juni 2001 dan selesai pada 4 Oktober 2002. Setiap mushaf indah kontemporer - sebagaimana mushaf-mushaf lama - mempunyai ciri khas sendiri dalam pola hiasannya, mencerminkan kekayaan ragam hias lokal. Ragam hias Mushaf Kalimantan Barat memenuhi seluruh permukaan halaman dengan warna lembut kebiruan. Berbeda dengan mushaf indah lainnya, tanda-tanda seperti juz dan ruku' di pinggir halaman berada di dalam bingkai iluminasi, dipisahkan dengan garis vertikal.
 Halaman isi Mushaf Kalimantan Barat.
 "Halaman judul" Mushaf Kalimantan Barat.
Halaman isi.

Halaman iluminasi tengah mushaf (awal Surah al-Kahf).
 Halaman isi.
 Halaman iluminasi akhir mushaf (Surah al-Falaq dan an-Nas).

Artikel terkait: "Mushaf Indah Kontemporer"
thumbnail

Qur'an-Qur'an Istana

Qur'an-Qur'an Istana Nusantara
Ali Akbar <aliakbarkaligrafi@yahoo.com>

Tulisan ini ingin memberikan gambaran singkat mengenai sejumlah mushaf Al-Qur’an yang disalin di beberapa istana kesultanan di Nusantara. Mushaf-mushaf tersebut sebagian kini masih tersimpan di istana atau museum istana tempat asal mushaf tersebut disalin, dan sebagian lain kini telah berpindah tangan menjadi koleksi museum, perpustakaan, atau bahkan diperdagangkan dan menjadi koleksi pribadi.
Gambar 1. Koleksi Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM 1998-1-3427).

Mushaf-mushaf yang ditampilkan dalam tulisan ini berasal dari bebrapa istana Nusantara, yaitu Banten, Cirebon, Riau-Lingga, Terengganu (Malaysia), Sumbawa, Bima, Bone, dan Ternate. Pemilihan mushaf tersebut terutama karena keindahan iluminasi, kaligrafi, dan kekhasan mushafnya. Meskipun demikian, tidak semua dari masing-masing istana tersebut melahirkan tradisi seni mushaf tersendiri yang berbeda dari istana lainnya. Sebagian dari istana-istana tersebut memiliki hubungan yang baik dengan istana lainnya, sehingga mushaf yang indah dapat berpindah dari suatu istana ke istana lainnya. Sebuah mushaf tinggalan Kesultanan Bima, misalnya, diduga kuat disalin di Kesultanan Terengganu (kini Malaysia), dan sebuah mushaf warisan Kesultanan Tidore, berdasarkan kaligrafi dan iluminasinya, diduga kuat berasal dari Patani (kini Thailand Selatan).
Mushaf-mushaf dari istana memiliki keistimewaan yang berbeda dengan mushaf-mushaf yang berasal dari kalangan masyarakat di luar istana pada umumnya. Keistimewaan itu terutama dalam hal keindahan iluminasi, kaligrafi, desain, dan kelengkapan teksnya. Dari sejumlah naskah yang ada, dapat diasumsikan bahwa istana di Nusantara merupakan pusat produksi naskah dan kajian ilmu keagamaan, termasuk mushaf al-Qur'an.

Ragam Iluminasi dan Kaligrafi
Iluminasi adalah hiasan di sekitar teks yang berfungsi untuk memperterang (illuminate) suatu teks. Dalam bahasa Arab disebut tazhīb, karena iluminasi biasanya menggunakan emas. Terkait iluminasi mushaf Al-Qur’an, biasanya hiasan yang istimewa terdapat di halaman awal, tengah, dan akhir mushaf. Ini telah menjadi semacam konvensi penyalinan mushaf Nusantara, dan berlaku di hampir seluruh wilayah Nusantara, dari Aceh, Patani, Terengganu, Filipina Selatan, hingga Ternate. Nah, siapakah gerangan para seniman hebat penghias Al-Qur’an itu?
Sedikit agak jauh ke belakang, sebenarnya salah satu tantangan (jika bukan ‘persoalan’) dalam kajian mushaf Nusantara, adalah bahwa mushaf-mushaf di Nusantara – demikian pula naskah selain mushaf – kebanyakan tidak memiliki kolofon (yaitu catatan naskah, biasanya terdapat di bagian belakang, yang berisi tentang nama penyalin, waktu dan tempat penyalinan, atau informasi lainnya). Sedikitnya kolofon dalam mushaf-mushaf Nusantara menjadikan gambaran kesejarahan mushaf tidak begitu lengkap, misalnya menyangkut nama-nama penyalin, iluminator, atau pemrakarsanya. Keadaan ini agak berbeda dengan mushaf-mushaf tinggalan beberapa kesultanan besar Islam seperti Mamluk di Mesir, Usmaniyah di Turki, Syafawiyah di Persia, serta Moghul di India, yang kebanyakan memiliki kolofon lengkap, sehingga kesejarahan naskahnya, juga tokoh-tokohnya, dapat diketahui dan ditelusuri dengan lebih baik.
Di Nusantara, dari sekian banyak mushaf dengan iluminasi nan indah, sejauh pengkajian hingga kini, belum pernah ditemukan satu pun nama seniman penghias mushaf! Nama penyalin mushaf masih muncul dalam sebagian mushaf. Namun, entah mengapa, nama pelukis iluminasi mushaf tidak pernah muncul! Apakah mereka merasa “derajat”-nya lebih rendah dibandingkan dengan seorang kaligrafer, penyalin kalam Ilahi itu? Padahal, dalam sebuah mushaf indah, iluminasi dan kaligrafi menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan!
Iluminasi dalam mushaf-mushaf Nusantara memiliki kekhasan tersendiri. Agak berbeda dengan iluminasi mushaf dari wilayah dunia Islam lainnya yang banyak menggunakan unsur-unsur geometris (selain unsur floral), iluminasi mushaf Nusantara pada umumnya floral dan hanya sedikit menggunakan pola geometris. Keterpesonaan kepada motif tetumbuhan itu menjadi gejala umum dalam mushaf Nusantara.
Pola iluminasi mushaf Nusantara sangat beragam. Karena wilayah Nusantara membentang sangat luas, masing-masing istana seakan-akan mengembangkan gaya iluminasi tersendiri untuk salinan mushafnya. Kesultanan Terengganu di pantai timur Semenanjung Malaysia mengembangkan gaya iluminasi floral dengan taburan emas yang mewah (Gambar 1). Agaknya, mushaf-mushaf dari Kesultanan Terengganu inilah yang terkesan paling ‘glamor’, dengan penggarapan detail yang menawan. Terengganu juga mengembangkan pola-pola desain yang beragam, seperti tampak pada kedua mushaf itu. Kemewahan itu juga tampak dalam sebuah mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 2), yang berdasarkan iluminasi dan kaligrafinya diduga juga berasal dari Terengganu. Kesan mewah dengan taburan emas juga tampak pada mushaf dari negeri Melayu lainnya, yaitu Kesultanan Riau-Lingga (Gambar 3, 4).

Gambar 2. Mushaf wakaf dari Kesultanan Bima, koleksi Bayt al-Qur'an & Museum Istiqlal, Jakarta.

Gambar 3. Koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.

Gambar 4. Koleksi Museum Linggam Cahaya, Daik, Pulau Lingga. [Foto: Aswandi Syahri]

Corak iluminasi yang berbeda tampak pada mushaf-mushaf yang berasal Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan (Gambar 5), serta corak diasporanya seperti tampak pada mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 6), dan Kesultanan Ternate (Gambar 7). Dalam sejarahnya, orang-orang Bugis dan keturunannya berlayar jauh ke barat mencapai Aceh, ke utara mencapai ke Kedah dan Filipina Selatan, ke selatan mencapai Bima, dan ke timur paling kurang mencapai Ternate. Luasnya jelajahan orang-orang Bugis itu sedikit-banyak tercermin pada gaya iluminasi dan kaligrafi mushafnya. Memang, di sana-sini ada ragam variasi yang berkembang di masing-masing daerah itu, namun ada unsur-unsur yang ‘menyatukan’, misalnya penggunaan garis vertikal di sisi luar, bentuk segitiga, serta setengah lingkaran di bagian atas, bawah, dan samping luar. Para seniman mushaf mengembangkan gaya iluminasi itu dari masa ke masa.

Gambar 5. Mushaf asal Bone, Sulawesi Selatan, 1804, koleksi Museum Aga Khan, Jenewa, Swiss. 
[Foto: Annabel Teh Gallop].

 Gambar 6. Koleksi Museum Samparaja, Bima.

Gambar 7. Koleksi Museum Babullah, Ternate.

Gaya iluminasi yang berbeda lagi tampak pada mushaf tinggalan Kesultanan Sumbawa (Gambar 8). Berbeda dari lainnya, mushaf ini mempunyai pola hiasan semacam pintu, dengan bentuk kubah di tengahnya. Corak seperti ini juga digunakan pada sebuah mushaf lainnya dari istana kesultanan Sumbawa. Gaya iluminasi seperti ini tidak banyak digunakan di wilayah lain, meskipun masih perlu bukti mushaf-mushaf lainnya lagi untuk bisa mengatakannya sebagai khas Sumbawa. Model iluminasi yang kurang banyak digunakan juga tampak pada mushaf dari Kesultanan Kacirebonan (Gambar 9). Motif hiasan seperti itu tidak khas ‘Cirebonan’ yang biasanya ‘menjunjung tinggi’ motif mega mendung. Motif khas Cirebon digunakan pada mushaf lain koleksi Kesultanan ini.

 Gambar 8. Mushaf dari Kesultanan Sumbawa, selesai ditulis pada Kamis, 24 Muharam 1254 (19 April 1838).

Gambar 9. Koleksi Keraton Kacirebonan.



Gambar 10. Mushaf A.50 dari Kesultanan Banten, koleksi Perpustakaan Nasional RI. 
[Foto: Art Gallery of South Australia]

Jika mushaf dari beberapa kesultanan di atas menonjol dalam iluminasi, mushaf-mushaf dari Kesultanan Banten menonjol dalam kaligrafinya. Iluminasi yang biasanya terdapat di bagian awal, tengah dan akhir mushaf, tidak kita temukan pada mushaf Kesultanan Banten (Gambar 10). Sementara, gaya khat yang digunakan adalah gaya Naskhi yang kadang-kadang dekat dengan gaya Muhaqqaq, dengan ciri huruf yang menjulur-julur. Gaya kaligrafi seperti itu kita temukan baik di Banten sendiri, maupun mushaf Banten koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta.[]
(Bersambung)

Artikel terkait:
thumbnail

Mushaf Jakarta

Mushaf Jakarta, 2002

"Al-Qur'an Mushaf Jakarta" secara resmi mulai ditulis pada 22 Ramadhan 1420 H (30 Desember 1999) dan selesai pada 26 Ramadhan 1421 H (22 Desember 2000). Peresmian ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Mushaf dalam bentuk cetakan terbit hampir dua tahun kemudian, sesuai tanda tashih yang dikeluarkan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama, yaitu 12 Agustus 2002. 
Badan Pelaksana Penulisan dan Pencetakan "Al-Qur'an Mushaf Jakarta" terdiri atas: Ide/Pemrakarsa: H Sutiyoso; Pembina: H Dr Jailani; Penanggung Jawab: H Fauzi Bowo; Pengarah: Drs H Afandi Anas; Anggota: Bamus Betawi, para Ulama, Haba'ib; Koordinator: Drs H Abdullah; Bendahara: H Syamsul Bahri; Pelaksana: S Damiri; Yayasan Mushaf al-Qur'an Jakarta; Bidang Perencana: (1) Bidang Kaligrafi: Baiquni Yasin (Ketua), Mahmud Arham, H Hawi Hasan, Islahuddin, Ali, Bustanul Arifin; (2) Bidang Iluminasi: Ahmad Haldani (Ketua), Aris Kurniawan, Muhammad Kusna Wijaya, Ahmad Nazar, Dikdik Riyama.



Halaman iluminasi awal mushaf (Surah al-Fatihah dan permulaan Surah al-Baqarah).

"Halaman judul" di awal mushaf.

Iluminasi tengah mushaf (awal Surah al-Kahf).

thumbnail

Mushaf at-Tin

Mushaf at-Tin, 1999


Mushaf ini adalah cetakan faksimili atas manuskrip indah "Mushaf al-Qur'an Ibu Hj Fatimah Siti Hartinah Soeharto". Mushaf ini dicetak dalam tiga ukuran, yaitu besar, sedang, dan kecil. Jumlah iluminasi 33 desain (dari 93 desain dalam manuskrip aslinya yang berukuran 102 x 73 cm). 
Tim Perancang/Perencanaan. Koordinator Teknik: H Mohammad Djaelani; Ketua Pelaksana Harian: Mahmud Buchari. Bidang Kaligrafi: Ustadz H Imron Islamil, Ustadz Abdul Wasi, Ustadz Baequni Yasin, Mahmud Arham, H Hawi Hasan, H Miftahuzzaman, Islahuddin. Bidang Iluminasi: Drs Achmad Haldani D, Dra Titi H Rasbury, Dra Henny Haerany, Dra Yeyet D Koryeti, Drs M Kusna Wijaya, Drs Zain Rais, Rahman Ruwandi. 
Booklet Mushaf at-Tin yang berisi penjelasan mengenai konsep kaligrafi dan iluminasi, sumber ide iluminasi, keterangan tanda baca, waqaf, daftar juz dan surah, serta struktur organisasi pelaksanaan dan skema teknis kerja dalam pembuatan Mushaf at-Tin dapat dilihat di sini: http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/02/booklet-mushaf-at-tin.html
 
Halaman iluminasi Surah al-Fatihah.

Halaman iluminasi awal Surah al-Baqarah.





Halaman iluminasi akhir mushaf.

Kolofon di akhir mushaf.

Artikel terkait: