Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label -Rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Harga Qur'an

Berapakah Harga Sebuah Manuskrip Qur'an 
pada Masa Lampau?

Informasi tentang harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau cukup langka. Saya memperoleh riwayat dari Pak Lukman (60-an tahun), asal Losari, Cirebon - sejak menikah tinggal di Cakung, Jakarta Timur. Pak Lukman mengatakan (1-9-2021) bahwa ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kakeknya (buyutnya Pak Lukman, bernama Yahya, seorang kiai di Losari) mengatakan bahwa mushaf miliknya dibeli dengan seekor kerbau! Semasa kecilnya, Pak Lukman sempat melihat mushaf tersebut, namun sayangnya, sekarang tidak tahu lagi di mana. Jika diperkirakan bahwa satu generasi itu 30 tahun, maka Kiai Yahya hidup pada akhir abad ke-19.
Mushaf Qur'an koleksi Elang Panji Jaya, Cirebon.

Nah, saya searching di internet, harga seekor kerbau saat ini (2021) sekitar Rp20 - 25 juta. Maka bisa dibayangkan, betapa mahalnya harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau! Memang, mushaf bukan manuskrip yang tipis. Mushaf biasanya terdiri atas 600 halaman lebih. Maka bisa dibayangkan mahalnya biaya produksi untuk naskah setebal itu! Biaya produksi, paling kurang, terdiri atas bahan (baik dari dluwang atau kertas eropa), plus biaya penyalinan 600-an halaman yang dikerjakan selama beberapa bulan, atau bahkan tahunan! (Tentang berapa lama sebuah mushaf disalin, lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/08/penyalinan-quran.html; http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/08/mencetak-quran.html).
Mengenai harga sebuah mushaf lainnya pada masa lampau, catatan H von de Wall sangat jelas, menyatakan bahwa mushaf cetakan litograf Palembang tahun 1854 dijual oleh Muhammad Azhari, pencetaknya, seharga 25 gulden per buah (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Padanan nilai gulden pada masa itu dengan rupiah saat ini belum begitu pasti, namun bisa diperkirakan bahwa harga tersebut sangat mahal.
Abdul Hakim, seorang kawan peneliti mushaf, juga meriwayatkan (5-9-2021), berdasarkan informasi orang setempat, bahwa di Cikijing, Majalengka, harga manuskrip Qur'an dahulu  seharga kerbau. Sedangkan di Madura, seharga sapi.
Kita bisa bayangkan, dengan mushaf seharga kerbau atau sapi, tentu mushaf merupakan barang yang cukup langka. Tidak semua muslim bisa memiliki mushaf. Meminjam untuk membaca Qur'an pun bukan perkara mudah, karena menyangkut harga barang semahal itu. Bisa dibayangkan, betapa 'sulit'-nya orang zaman dahulu untuk membaca Qur'an.  Meskipun demikian, berdasarkan beberapa catatan dalam mushaf, ada banyak muhsinin yang mewakafkan mushaf untuk masjid. Beberapa mushaf di Masjid Agung Surakarta (sekarang menjadi koleksi khusus) adalah wakaf dari Paku Buwono X dan muslim lainnya. Juga di beberapa mushaf asal Aceh, Sulawesi Selatan, dan daerah lainnya terdapat catatan wakaf. Kita bisa membayangkan betapa besar nilai wakaf tersebut. 
Jika kita bandingkan dengan harga pasar manuskrip Qur'an saat ini, sebenarnya harga seekor kerbau di atas dapat dikatakan wajar. Harga sebuah manuskrip Qur'an saat ini, di pasaran barang antik, kurang lebih seharga itu juga, sekitar Rp20-25 juta untuk mushaf kualitas biasa. 

Artikel terkait
thumbnail

Loteng

Menyimpan mushaf lama


Ketika menelusuri naskah di lapangan, saya—mungkin juga Anda—sering mendengar orang tua setempat yang mengatakan bahwa mushaf yang sudah tidak terpakai lagi disimpan di loteng masjid. Sebenarnya saya sulit membayangkan keadaannya seperti apa, hingga suatu saat saya melihatnya sendiri. Seorang marbot Masjid Jami' Nuur Rahmaan di Kelurahan Dondo Barat, Kecamatan Ratolindo, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, mengajak saya menaiki anak tangga untuk melihat loteng, di bawah kubah masjid. Memang agak repot menaikinya, karena tangganya cukup ekstrem.
Onggokan mushaf yang telah hancur.



Inilah keadaan mushaf di loteng masjid yang sudah tidak terpakai lagi selama puluhan tahun. Hanya sedikit halaman yang masih utuh. Tampak di sini bahwa mushaf yang dahulu digunakan masyarakat adalah mushaf cetakan yang sering disebut sebagai Mushaf Bombay (lihat: https://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/quran-bombay-karya-toha-putra-2000.html).
Jenis "Mushaf Bombay". 

Terkadang juga mushaf diletakkan di atas mihrab masjid seperti ini.

Masjid Jami' Nuur Rahmaan, Dondo Barat, Ratolindo, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah

thumbnail

Kaligrafi Mushaf MTQ

Dari MTQ Lombok

Terlebih dahulu perlu dicatat besar-besar, bahwa perkembangan kaligrafi di Indonesia, dalam tiga dasawarsa terakhir, sangat membanggakan, dan terjadi lonjakan keterampilan yang luar biasa. Belakangan, era media sosial dewasa ini kian melejitkan, dan menjadikan para kaligrafer cepat terhubung dengan rekan-rekan kaligrafer dari belahan dunia lain dalam waktu sekejap, sehingga proses belajar demikian cepat. Sebagian kaligrafer Indonesia juga telah memenangi lomba khat internasional.
Nah, salah satu cabang yang dilombakan dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) adalah cabang Kaligrafi Mushaf Al-Qur’an. Beberapa foto di bawah ini adalah hasil sementara (sebelum babak final) MTQ Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 30 Juli – 6 Agustus 2016. 
Membandingkan dengan tradisi mushaf lama, segera timbul kesan bahwa karya-karya di bawah ini sangat berbeda dengan ciri mushaf Nusantara pada umumnya, baik dalam model hiasan maupun warna.
Pajangan karya hasil lomba.


Halaman iluminasi mushaf lama selalu terdiri atas dua halaman kiri-kanan dengan desain simetris. Itu selalu! Tidak ada mushaf yang beriluminasi tunggal – bahkan di dunia Islam mana pun! Iluminasi tunggal biasanya hanya terdapat pada naskah-naskah sastra – meskipun juga tidak selalu, karena para iluminator masa lalu sering mengacu kepada Qur'an. Iluminasi tunggal juga biasanya tampak pada halaman awal kitab kuning atau buku-buku keagamaan cetakan lama. Jadi, menurut saya, iluminasi mushaf itu mutlak dua halaman simetris. Jika hanya satu halaman, konsekuensi visualnya tentu akan berbeda jauh, karena simetrinya dibangun pada satu halaman saja. Dan jika satu halaman simetris itu digandakan untuk dua halaman kiri-kanan mushaf, akan terjadi pemaksaan yang terasa ganjil. Oleh karena itu, karya-karya bereputasi nasional ini, disayangkan, belum bisa digunakan oleh penerbit mushaf, misalnya, yang akan menerbitkan suatu mushaf indah. Padahal, tidak salah jika hasil peraduan nasional ini menjadi alternatif desain yang bisa digunakan oleh penerbit mushaf. Jika itu terjadi, tentu akan menjadi ‘nilai tambah’ bagi MTQ Nasional, dan menjadi lebih abadi – tidak ‘hilang’ begitu saja, menjadi entah koleksi siapa, seperti yang katanya terjadi selama ini…
Penggunaan warna juga tampak berbeda sekali. Warna-warna yang digunakan para pelomba ini tampak agak genit, ngejreng, sehingga terkesan ringan, riang, seru, dan instan. Ini berbeda dengan karakter kuat, kokoh (katanya yang bener ‘kukuh’, hehe) yang terkesan pada warna-warna mushaf lama Nusantara. Jadi, karakternya warna pastel. Maklum, biasanya diambil dari pewarna tumbuhan – selain warna emas, tentu saja. Rasanya, warna yang ‘mantap’, tegas, lebih tepat untuk Qur’an. Tetapi, era media sosial zaman sekarang mungkin melahirkan ciri yang berbeda…
Terkesan bahwa karya-karya para pelomba ini kurang historis. (Mungkin tidak harus sih, hehe…). Tetapi ada satu karya yang memperlihatkan ciri Qur’an Turki Usmani (Ottoman), Persia, atau India (lihat gambar di bawah ini). Tampak bahwa desain iluminasi ini ada referensinya – meskipun menimbulkan pertanyaan: mengapa tidak Nusantara? Mungkin ini bagian dari kekaguman kita kepada ‘asing’ yang hebat nun jauh di sana, atau mungkin karena gambar referensi yang ada seperti itu, atau mungkin kita kurang mencintai ‘produk lokal’…
Sekali lagi, tampak bahwa karya para pelomba MTQ tidak berdasarkan khazanah mushaf Nusantara yang memadai. Memang, bisa jadi suatu karya tidak harus berdasarkan khazanah lama. Namun jika ada ‘nilai-nilai’ yang keberlanjutan dari tradisi yang telah hidup berabad sebelumnya, suatu karya akan lebih menemukan karakternya, identitasnya.
Karena Nusantara begitu kaya…

Tampak ciri Turki Usmani (Ottoman), Persia, atau India.








thumbnail

Mushaf Pusaka

Karya Prof Salim Fachry: Mushaf Pusaka

Salah satu mushaf penting koleksi Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal adalah “Mushaf Pusaka”. Mushaf ini ditulis atas prakarsa Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno dan merupakan mushaf resmi yang ditulis tangan pertama kali setelah kemerdekaan RI. Mushaf ini dianggap sebagai hadiah dari umat Islam Indonesia untuk kemerdekaan RI. Mushaf Pusaka ditulis oleh Prof Drs H Salim Fachry, guru besar IAIN Jakarta (wafat 1988), dimulai pada 23 Juni 1948 (17 Ramadan 1367 H), selesai 15 maret 1950. 
Halaman awal Mushaf Pusaka.
Penulisan mushaf ini diresmikan dengan penulisan huruf ba’ (huruf pertama Basmalah) oleh Bung Karno, dan diakhiri dengan huruf mim (huruf terakhir) oleh Bung Hatta. Penulisan mushaf di bawah kurasi khattat Indonesia kenamaan saat itu, KH Abdurrazaq Muhili. Mushaf Pusaka berukuran 100x75 cm dengan bidang teks 80x50 cm, ditulis di atas kertas karton, dengan khat Naskhi. Jenis mushaf ini adalah “Qur’an Sudut”, yaitu setiap halaman berakhir dengan ayat penuh, tidak bersambung ke halaman berikutnya. Mushaf Pusaka terdiri atas tiga jilid, masing-masing 10 juz, dengan "sampul" dari papan kayu.
Mushaf ini merupakan ‘hibah’ dari Istana Negara pada tahun 1997 pada saat pembukaan Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal.

Sumber: Leaflet BQMI

Awal mushaf (maaf gambar tidak memadai karena cahaya lampu di aatasnya!).


Iluminasi awal mushaf.


Artikel terkait:
"Para penulis Qur'an di Indonesia: Penelusuran awal": http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/para-penulis-mushaf-di-indonesia.html
thumbnail

Kajian al-Qur'an

Buku Howard M. Federspiel 

Sebuah buku yang secara komprehensif membahas tentang Qur'an di Indonesia adalah karangan Howard M. Federspiel berjudul Popular Indonesian Literature of the Qur'an, terbitan Cornell Modern Indonesia Project, 1994. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul Kajian al-Qur'an di Indonesia: Dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab, diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung, cetakan pertama Juli 1996. 
Saya kira hingga sekarang buku ini masih banyak dicari, baik oleh masyarakat umum, maupun, terutama mahasiswa. Namun edisi Indonesia, maupun aslinya dalam bahasa Inggris, sulit ditemukan lagi di pasaran. Nah, jika Anda memerlukan buku tersebut, barangkali link ke edisi Inggris ini ada manfaatnya:
http://ebooks.library.cornell.edu/cgi/t/text/pageviewer-idx?c=cmip&cc=cmip&idno=cmip072&node=cmip072%3A3&view=image&seq=1&size=75
Terjemahahan buku Federspiel dalam bahasa Indonesia.

thumbnail

Paradise on earth

Kaligrafi untuk pameran "Paradise on Earth"
(Sebagai ingatan)

Pertengahan Juni lalu saya diminta oleh sahabat dekat, kurator seni Asia di Art Gallery of South Australia di Adelaide, untuk membuat kaligrafi yang akan ditempel di pameran yang dia kurasi. Pameran kecil itu berlangsung dari 29 Juni hingga September 2013, berjudul "Paradise on Earth: Flowers in the Arts of Islam" (http://www.artgallery.sa.gov.au/agsa/home/Exhibitions/NowShowing/Paradise_on_earth).
Teks saya tulis dalam gaya Nasta'liq (Farisi), merupakan petikan dari ayat Qur'an, balasan bagi orang-orang yang bertakwa: "Surga 'Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai; di dalamnya mereka memperoleh segala yang diinginkan." (Surah an-Nahl/16:31). Suatu ayat yang menenteramkan...
Pada tahun 2005 sebelumnya, saya juga pernah menulis kaligrafi untuk logo pameran dan tiga potong teks hadis dan ayat untuk pameran "Crescent Moon: Islamic Art and Civilisation in Southeast Asia" (http://www.artgallery.sa.gov.au/agsa/home/Exhibitions/Past_Exhibitions/2005/crescentmoon.html, http://nga.gov.au/crescentmoon/). Pameran yang dia kurasi ini cukup besar, karena sempat digelar di dua kota, Adelaide dan Canberra. 
Suatu kaligrafi yang sederhana saja.



Logo pada pintu masuk pameran "Bulan Sabit: Seni dan Peradaban Islam Asia Tenggara" 
(Crescent Moon: Islamic Art and Civilisation in Southeast Asia), Adelaide, 2005.
(Semua foto atas kebaikan Saul dan James).
thumbnail

Menghormati Qur'an

Penghargaan kaum Muslim terhadap Qur'an

Dari pengalaman di berbagai tempat ketika 'memburu' Qur'an, saya memperoleh banyak pelajaran, dan semakin berhati-hati memperlakukan Qur'an. Karena sering menemui keterbatasan fasilitas di lapangan, kadang-kadang saya lupa dan khilaf dalam memperlakukan Qur'an. Misalnya, di sebuah museum di Malaysia utara, ketika tidak menemui meja yang tepat untuk menaruh Qur'an untuk difoto, saya menggunakan kursi sebagai tempat untuk meletakkan Qur'an. Pegawai museum yang melihat segera mencegah tindakan tak pantas saya, "Ini 'kan biasa untuk duduk?" Saya harus segera paham maksudnya.
Sebuah banner pameran yang memuat Qur'an dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Sementara, seorang kawan beberapa bulan lalu menjadi malu, karena tanpa begitu sadar menaruh Qur'an di lantai ketika memotret. Dua orang pelajar sekolah Tsanawiyah yang sedang mengaji tidak jauh dari situ segera menegur, seraya menyuruh kawan saya untuk mencium Qur'an itu tiga kali!
Orang Islam memang sangat menghormati Qur'an. Cara menghormatinya juga bermacam-macam. Yang paling umum, Qur'an harus ditaruh di tempat yang paling atas. Jika ditumpuk, Qur'an harus berada di lapisan paling atas, dan harus dipastikan tidak ada benda lain yang menindihnya. (Konon, di antaranya karena hal inilah, pencetakan Qur'an selama beberapa abad ditolak oleh umat Islam, karena teknik percetakan adalah dengan tindihan beban yang berat!).
Penghormatan terhadap Qur'an memang sudah didoktrinkan sejak kecil. Di pesantren, dalam pelajaran bahasa Arab yang dibaca keras-keras dan harus dihafalkan santri, ada teks berbunyi, "Al-Qur'anul-karim... nadha'uhu fi makanin murtafi'in... (Al-Qur'anul-karim... kita menaruhnya di tempat yang tinggi...)". Pada waktu kecil saya heran kenapa sebagian orang membawa Qur'an dengan dipanggul di atas kepala...
Cara lain menghormatinya, ketika membacanya sambil bersila, Qur'an tidak boleh dalam posisi yang lebih rendah dari kemaluan (maaf). Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah meletakkannya di atas rehal (Jawa: rekal, lekar). Dalam menyimpan Qur'an, juga macam-macam caranya. Selain dimasukkan dalam kotak (lihat misalnya di Lombok http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/tradisi-mushaf-al-quran-di-lombok.html , juga sering dilindungi dengan kain putih. Ketika membuka pun, ada sebagian pemilik Qur'an tua yang mengharuskan "mengalirkan darah" dulu! Maksudnya, menyembelih ayam, atau kambing, atau sapi. Oleh karena syarat yang "mahal" inilah sebagian kawan 'penelusur' naskah/Qur'an "mundur teratur", karena tidak sanggup memenuhi syaratnya...

Nah, seorang kawan beberapa bulan lalu bercerita, bahwa di Leicester, Inggris, di sebuah perpustakaan di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ada pengunjung yang menyatakan rasa tidak senang dengan salah satu panel pameran karena ada gambar Qur'an yang diletakkan di bagian paling bawah sebuah banner. Ya, tentu penyelenggara harus memaklumi dan mengganti pajangannya...
thumbnail

Mata kuliah Kajian Mushaf

Catatan: "Kajian Mushaf Al-Qur'an di Indonesia" merupakan mata kuliah baru, oleh karena itu perlu penyempurnaan dari waktu ke waktu. Terima kasih kepada Dr. Ali Nurdin dan Dr. Ahmad Husnul Hakim, dekan Fakultas Ushuluddin yang menerima mata kuliah ini untuk diajarkan di Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ, sejak 2009. 

Mata Kuliah: “Kajian Mushaf Al-Qur’an di Indonesia”
Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ)
Jalan Batan 1 No. 2 Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 12440 
Pengajar: Ali Akbar, M.Hum. 

Tujuan
Penyampaian mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa: 
1. Mengetahui kronologi perkembangan mushaf di Indonesia, dari tradisi manuskrip (tulisan tangan), litografi (cetak batu), hingga cetakan modern. 
2. Mengetahui kekhasan tradisi penulisan mushaf di Indonesia dan membandingkannya dengan tradisi penulisan mushaf di beberapa wilayah dunia Islam. 
3. Mengetahui aspek-aspek kajian kodikologi* mushaf di Indonesia, yaitu mencakup tulisan (kaligrafi), iluminasi, kertas, alat tulis, layout, koleksi mushaf di berbagai lembaga, dan lain-lain.
4. Mengetahui ragam qiraat, rasm, tanda tajwid, dll. dalam mushaf-mushaf di Indonesia. 
Mushaf koleksi Institut PTIQ, Jakarta.

* Kodikologi berasal dari kata codex (= naskah), yaitu ilmu tentang naskah secara fisik—bukan isi teks yang dikandung suatu naskah. Kodikologi mencakup pembahasan tentang tulisan (kaligrafi), iluminasi, ilustrasi, tata muka (lay out), kertas, alat tulis, tinta, jilidan, persebaran dan perdagangan naskah, dan lain-lain.

Cakupan Materi Kuliah
Mata kuliah ini mencakup bahasan hal-hal sebagai berikut:
1.  Pengenalan umum, dan signifikansi kajian mushaf Nusantara.
2.  Perbandingan ragam mushaf dunia Islam (Magribi, Mamluk, Turki Usmani, Asia Tengah, Safawi, Moghul, Cina, Nusantara) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/mushaf-dunia-islam.html; http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/-Mushaf%20Dunia%20Islam).
3.  Kekhasan mushaf Nusantara (Patani, Terengganu,  Aceh, Bugis-Makassar, Jawa, dll.) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28a%29%20Mushaf%20Tulis%20Tangan).
4.  Ragam kaligrafi (teks Al-Qur'an, kepala surah, teks pinggir halaman, dan kolofon) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/-Kaligrafi).
5.  Ragam iluminasi (awal, tengah, dan akhir mushaf) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/-Iluminasi).
7.  Rasm, ragam qiraat, tanda tajwid, dan tanda-tanda baca.
8.  Doa khatam Al-Qur'an, keterangan ragam qiraat, dan ulumul Qur’an.
9.  Cetakan litografi (cetak batu) dari India dan Singapura (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28b%29%20Mushaf%20Cetakan%20Awal).
13. Mushaf-mushaf indah masa kini (Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, Mushaf Kalbar, Mushaf Karaton Yogyakarta, dan Mushaf al-Bantani) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28f%29%20Mushaf%20Indah%20Kontemporer).
14. Perkembangan mutakhir cetakan mushaf (desain produk, ragam materi, iluminasi, ilustrasi, penerbit).

Topik Bahasan
Ada tujuh topik bahasan yang ditulis oleh kelompok mahasiswa dalam bentuk makalah ringkas dan didiskusikan di kelas. Sebagian bahannya dapat dilihat pada beberapa artikel singkat dalam blog ini (di samping artikel lainnya), dengan petunjuk link sebagai berikut:
1.  Mushaf dunia Islam (Magribi, Mamluk, Turki Usmani, Asia Tengah, Safawi, Moghul, Cina) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/-Mushaf%20Dunia%20Islam; http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/mushaf-dunia-islam.html#more).
3.  Mushaf litografi dari India, Turki, Singapura, Palembang (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28b%29%20Mushaf%20Cetakan%20Awal).
5.  Mushaf tahun 1984 – 2003 (sejak "pembakuan" Mushaf Standar Indonesia, tanpa mushaf-mushaf indah kontemporer) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28g%29%20Mushaf%20Standar%20Indonesia; http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28d%29%20Mushaf%20Cetakan%201984-2003).
7.  Mushaf indah kontemporer (Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, dll) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28f%29%20Mushaf%20Indah%20Kontemporer).

Tugas Mahasiswa dan Bobot Nilai
1.  Hadir mengikuti kuliah di kelas (10%).
2.  Membuat makalah tugas kelompok dan presentasi kelompok (20%).
3.  Membuat ringkasan dua halaman untuk masing-masing tujuh topik bahasan di atas (30%).
4.  Ujian Akhir Semester (40%).

Pembuatan dan Penyajian Makalah
·    Mahasiswa dibagi menjadi tujuh kelompok, masing-masing kelompok menulis makalah sesuai topik di atas.
·    Makalah disajikan oleh suatu kelompok dan ditanggapi oleh mahasiswa lainnya.


Sumber Naskah dan Rujukan
Sebagian bahan dapat dilihat dalam blog ini <quran-nusantara.blogspot.com> (lihat “Kategori” di lajur kanan), atau silakan klik link pada bagian Topik Bahasan di atas. Di samping itu, bahan-bahan lainnya dapat dilihat di beberapa tempat, misalnya:
1.   Untuk manuskrip dan mushaf cetakan, lihat:
a.    Museum al-Qur’an PTIQ
b.   Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah
c.    Perpustakaan Nasional RI, Lantai 5 (Jl. Salemba Raya 28 A Jakarta)
d.   Toko Buku Gramedia dll (untuk cetakan Qur’an mutakhir)
2.   Sejumlah artikel terkait lihat Daftar Pustaka mata kuliah ini (lihat di bawah).
3.   Artikel-artikel yang dimuat dalam “Kumpulan Tulisan tentang Kajian Mushaf al-Qur’an di Nusantara dan Tulisan Terkait Lainnya”, jilid 1 dan 2 – menyusul jilid 3 (fotokopian, dikumpulkan oleh Ali Akbar).
4.   Wawancara dengan anggota Lajnah, dll.


Catatan: Kuliah disampaikan dengan contoh-contoh foto, menggunakan alat bantu berupa laptop dan projektor.

Kisi-kisi Tugas Penulisan Makalah
(Berlaku untuk semua topik makalah. Bisa ditambah atau dikurangi, sesuai dengan topiknya).

A. Pendahuluan
(Uraikan pendahuluan yang relevan, dan nyatakan bahwa mushaf yang dikaji adalah penting)

B. Deskripsi Mushaf
(Deskripsikan fisik mushaf yang menjadi bahan kajian, yaitu ukuran, kertas, penyalin, kaligrafi, iluminasi, jilidan, dan lain-lain yang dianggap perlu. Pada bagian ini hanya mendeskripsi mushaf secara fisik, tidak perlu analisis dan asumsi-asumsi).

C. Analisis Mushaf (uraikan, analisis, bandingkan dgn mushaf lain)
1. Kaligrafi (teks Al-Qur’an, kepala surah, dll).
2. Iluminasi (uraikan iluminasi/hiasan yang digunakan pada awal, tengah, dan akhir Al-Qur’an, juga pada kepala surah, tanda-tanda juz, dll.)
3. Kertas (uraikan jenis kertas yang digunakan. Untuk mushaf kuno, lihat watermark-nya (cap kertas).
4. Jilidan (uraikan tentang hiasan/desain cover dan model jilidannya).

D. Analisis Tekstual (uraikan, analisis, bandingkan dgn mushaf lain)
1. Rasm (usmani atau imla’i, dan berikan contohnya).
2. Qiraat (jelaskan jenis qiraat yang digunakan).
3. Tanda Baca dan Tanda Tajwid (uraikan jenis-jenis tanda tajwid yg digunakan)
4. Pembagian Teks Al-Qur'an (tanda ayat, juz, nisf, rubu’, sumun, ruku’, manzil, dll.)
5. Tinjauan Teks Al-Qur’an (misalnya, ada kesalahan penulisan, dll.).
6. Teks-teks tambahan (bila ada)
a. Teks Sebelum Al-Qur'an (kolofon, doa, wakaf, ulumul Qur’an, dll.)
b. Teks Sesudah Al-Qur'an (doa khatam Al-Qur'an, daftar imam qiraat, kolofon, dll.)
c. Teks Tambahan lainnya (terjemahan antarbaris, hadis fada’ilus-suwar, dll.)

E. Kontekstualisasi Mushaf 
(Uraikan secara analitis konteks mushaf, disertai perspektif historis dan perbandingan, menyangkut asal-usul, latar belakang penyalinan, perkembangan, fungsi, penggunaan dalam konteks sosial, dll.)

F. Kesimpulan

G. Daftar Pustaka
(Cantumkan hanya buku-buku yang dirujuk saja).

H. Lampiran
(Lampirkan foto/gambar mushaf yang relevan saja)


Daftar Pustaka

Bibliografi Kajian Mushaf Al-Qur'an Nusantara

Buku
Atjeh, Aboebakar. 1989. Sejarah Al-Qur'an. Solo: Ramadhani. Cetakan ke-6 [Cetakan ke-1 tahun 1948]
Bafadhal, Fadhal AR dan Anwar, Rosehan. 2005. Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan
Baker, Colin F. 2007. Qur’an Manuscripts: Calligraphy, Illumination, Design. London: The British Library. [hlm. 90-94]
Kawashima Midori (ed.). 2012. The Qur'an and Islamic Manuscripts of Mindanao. Tokyo: Institute of Asian Cultures, Sophia University. [Contributors: Tirmizy E. Abdullah, Annabel Teh Gallop, Kawashima Midori, Ervan Nurtawab, Labi Sarip Riwarung]
Syarif, M Ibnan. 2003. Ketika Mushaf Menjadi Indah. Semarang: Aini
Zain, Dzul Haimi Md. 2007. Ragam Hias Al-Qur'an di Alam Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publications and Distributors [Ulasan singkat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/ragam-hias-quran-melayu.html#more] 

Booklet
1997. Penulisan Al-Qur'an Mushaf Sundawi Jawa Barat.
Buchari, Mahmud. 1999. Al-Qur’an: Manuskrip Mushaf Wakaf untuk Mengenang Almh. Ibunda Hjh. Fatimah Siti Hartinah Soeharto, (Jakarta: Kharisma).


Jurnal, Bagian dari buku
Akbar, Ali. 2004. ”Menggali Khazanah Kaligrafi Nusantara: Telaah Ragam Gaya Tulisan dalam Mushaf Kuno”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 2 (1): 57-72 [Unduh: https://www.academia.edu/26460869/Menggali_Khazanah_Kaligrafi_Nusantara_Telaah_Ragam_Gaya_Tulisan_dalam_Mushaf_Kuno]
Akbar, Ali. 2005. ”Memperindah Firman Allah: Beberapa Aspek Kodikologi MS A.47 Koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 3 (2): 219-233
Akbar, Ali. 2005. ”Mushaf-mushaf Banten: Mencari Akar Pengaruh”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 97-109
Akbar, Ali. 2006. ”Tradisi Lokal, Tradisi Timur Tengah, dan Tradisi Persia-India: Mushaf-mushaf Kuno di Jawa Timur”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 4 (2): 242-261 [Unduh: https://www.academia.edu/26460868/Tradisi_Lokal_Tradisi_Timur_Tengah_dan_Tradisi_Persia-India_Mushaf-mushaf_Kuno_di_Jawa_Timur]
Akbar, Ali. 2006. ”Beberapa Aspek Mushaf Kuno Indonesia”. Jakarta, Dialog, No.61, Th.29, h. 78-93
Akbar, Ali. 2007. ”Tracing Individual Styles: Islamic Calligraphy from Nusantara”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 5 (2): 244-255. [Unduh: https://www.academia.edu/26460867/Tracing_Individual_Styles_Islamic_Calligraphy_from_Nusantara]
Akbar, Ali. 2010. “Mushaf Sultan Ternate Tertua di Nusantara?: Menelaah Kembali Kolofon”, Jurnal Lektur Keagamaan, Vol.8, No.2, h. 283-296 [Unduh: https://www.academia.edu/26460866/Mushaf_Sultan_Ternate_Tertua_di_Nusantara_Menelaah_Ulang_Kolofon]
Akbar, Ali. 2010. “Khazanah Mushaf Kuno Nusantara” dalam Oman Fathurahman, dkk (ed.) Filologi dan Islam Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan), h. 181-208 [Unduh: https://www.academia.edu/26460865/Khazanah_Mushaf_Kuno_Nusantara]
Akbar, Ali. 2011. “Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Lombok” dalamPerkembangan Mushaf, Terjemahan, dan Tafsir al-Qur’an di Indonesia (katalog pameran), (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an), h.7-13 [Unduh: https://www.academia.edu/3092390/Tradisi_penyalinan_mushaf_Al-Quran_di_Lombok; atau lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/tradisi-mushaf-al-quran-di-lombok.html]
Akbar, Ali. 2011. “Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia”, Suhuf, Vo.4, No.2, h. 271-287 [Unduh: https://www.academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia]
Akbar, Ali. 2012. "Khazanah Mushaf Al-Qur'an Kuno Maluku" (katalog pameran) (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an)
Akbar, Ali. 2014. "Manuskrip Al-Qur'an dari Sulawesi Barat: Kajian Beberapa Aspek Kodikologi", Suhuf, Vol.7, No.1, h. 101-123 [Unduh: https://www.academia.edu/26460863/Manuskrip_Al-Quran_dari_Sulawesi_Barat_Kajian_Beberapa_Aspek_Kodikologi]
Akbar, Ali. 2015. "The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia Through the Ages" dalam A.C.S. Peacock dan Annabel Teh Gallop (eds.), From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, (Oxford: Oxford University Press), h. 311-334.
Al-Haqiri, M Syatibi. 2005. ”Menelusuri Al-Qur'an Tulisan Tangan di Lombok”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 142-168
Anwar, Rosehan. 2005. ”Mushaf Kuno di Palembang”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar (ed.), Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 68-96
Arifin, Zaenal. 2013. “Kajian Ilmu Rasm Usmani dalam Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia.” Suhuf 6 (1), h. 35-58
Arsyad, Harisun. 2006. ”Menelusuri Khazanah Mushaf Kuno di Aceh”. Jakarta,Jurnal Lektur Keagamaan, 4 (2): 214-241
Behrend, Tim. 2005. “Frontispiece Architecture in Ngayogyakarta: Notes on Structure and Sources”, Paris: Archipel 69, h. 39-60
Buchari, Mahmud. 1991. “Mushaf Al-Qur'an Istiqlal”. Dalam Joop Ave (ed.),Nafas Islam Kebudayaan Indonesia, Jakarta: Kementerian Parpostel, h. 136-151
Buchari, Machmud. 1992. “The Mushaf of Al-Qur’an at Istiqlal”. London: Arts & The Islamic World, No. 21.
Fathoni, Ahmad. 2005. ”Sebuah Mushaf dari Sumedang”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 124-141
Gallop, Annabel Teh and Akbar, Ali. 2006. “The Art of the Qur’an in Banten: Calligraphy and Illumination”, Paris: Archipel 72, h. 95-156
Gallop, Annabel Teh. 2002. “Seni Hias Manuskrip Melayu” dalam Warisan Manuskrip Melayu, Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia, h. 233-259
Gallop, Annabel Teh. 2004. “An Acehnese Style of Manuscript Illumination”, Paris: Archipel 68, h. 193-240 
Gallop, Annabel Teh. 2004a. ”Seni Mushaf di Asia Tenggara”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 2 (2): 121-143 [diterjemahkan oleh Ali Akbar. Versi bahasa Inggris berjudul ”The Art of Qur’an in Southeast Asia”, dalam Fahmida Suleman (ed.), Word of God, Art of Man: The Qur’an and Its Creative Expression, (London: Oxford University Press and The Institute of Ismaili Studies, 2007, h. 191-204]
Gallop, Annabel Teh. 2005. “Seni Naskah Islam di Asia Tenggara”. Jakarta,Jurnal Lektur Keagamaan, 3 (1): 1-29 [diterjemahkan oleh Ali Akbar. Versi bahasa Inggris berjudul ”Islamic Manuscript Art of Southeast Asia”, dalam James Bennett (ed.), Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia, Adelaide-Canberra: Art Gallery of South Australia-National Gallery of Australia, 2005-2006, h. 158-183]
Gallop, Annabel Teh. 2005a. ”The Spirit of Langkasuka? Illuminated Manuscripts from the East Coast of the Malay Peninsula”. London,Indonesia and the Malay World, 33 (96): 113-182
Gallop, Annabel Teh.  2008. “From Caucasia to Southeast Asia: Daghistani Qur’ans and the Islamic manuscript tradition in Brunei and the Southern Philippines. I-II.  Manuscripta Orientalia, 14 (1), June 2008, pp.32-56; 14 (2), December 2008, pp.3-20.
Gallop, Annabel Teh. 2010. “The Bone Qur’an from South Sulawesi”, dalamTreasures of the Aga Khan Museum: Arts of the Book and Calligraphy, ed. Margaret S. Grases and Benoit Junod, Istanbul: Aga Khan Trust for Culture and Sakip Sabanci University & Museum, pp.162-173.
Gallop, Annabel Teh. 2011. “Qur’an Manuscripts from Mindanao in U.S. Collections” http://www.oovrag.com/essays/essay2011a-1.shtml
Gallop, Annabel Teh. 2011. “Islamic Manuscripts from The Philippines in U.S. Collections: a preliminary listing, including two printed Qur’ans”http://www.oovrag.com/bibliography/bibliography13.shtml
Gallop, Annabel Teh. 2011. “An Acehnese Qur’an Manuscript in Belgium” dalam Titik Pudjiastuti dan Tommy Christomy (eds), Teks, Naskah, dan Kelisanan Nusantara, Jakarta: Yanassa, h. 50-72
Gallop, Annabel Teh. 2012. “The Art of the Malay Qur’an: Treasures from Terengganu” Arts of Asia, Jan-Feb 2012, pp. 84-95.
Hakim, Abdul. 2014. “Pola Pentashihan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia: Benang Merah Institusi Pentashihan sebelum Tahun 1959.” Suhuf, 7 (1), h. 23-38
Hanafie, Komar. 1991. “Perkembangan al-Qur’an di Indonesia: Sebuah Telaah Kronologis”. Naskah dan Buku [Katalog pameran]. Jakarta: Festival Istiqlal I.
Huism, Tan. 2010. ”A Royal Terengganu Qur’an in the Collection of the Asian Civilisations Museum”, Arts of Asia, 40 (1): 96-100
Jaeni, Ahmad. 2013. ”Aplikasi Braille dalam Penulisan Al-Qur’an: Kajian atas Mushaf Standar Braille Indonesia.” Suhuf, 6 (1), h. 19-34
Munawiroh. 2005. ”Mushaf Kuno di Kalimantan Timur”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 220-236
Munawiroh. 2007. “Mushaf Kuno di Provinsi Sulawesi Tenggara”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 5 (1): 19-38
Peeters, Jeroen. 1995. ”Palembang Revisited: Further Notes on the Printing Establishment of Kemas Haji Muhammad Azhari, 1848”. International Institute for Asian Studies (IIAS) Yearbook 1995, h. 181-190
Razak, Rajabi Abdul and Trevathan, Idries. 2010. “The 19th-century Malay Qur’an: A Comparative Study of Materials and Techniques”, Journal of Islamic Manuscript, 1: 79-94
Riddell, Peter G. 2002. “Rotterdam MS 96 D 16: The Oldest Known Surviving Qur'an from the Malay World. Indonesia and the Malay World, 30(86):9-20.
Saefullah, Asep. 2005. “Kesucian dalam Keindahan: Seni Mushaf Al-Qur’an dari Pulau Sumbawa”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 3 (2): 234-260
Saefullah, Asep. 2007. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal Jakarta”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 5 (1): 39-62
Saefullah, Asep. 2008. ”Aspek Rasm, Tanda Baca dan Kaligrafi pada Mushaf-mushaf Kuno Koleksi Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, Jakarta”. Jakarta:Suhuf, 1 (1): 87-110
Shohib, Muhammad. 2005. ”Manuskrip Al-Qur'an di Kalimantan Barat”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 169-212
Sudrajat, Enang. 2005. ”Mushaf Kuno Jawa Barat”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 110-123
Sudrajat, Enang. 2013. ”Pentashihan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia.” Suhuf, 6 (1), h. 59-81
Surur, Bunyamin Yusuf. 2005. ”Mushaf Kuno di Sulawesi Selatan”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 237-259
Sya’roni, Mazmur. 2003. “Beberapa Aspek Mushaf Kuno di Sumatra”. Jakarta,Jurnal Lektur Keagamaan, 1 (2): 174-189
Sya’roni, Mazmur. 2005. ”Ragam Penulisan Mushaf Kuno di Riau”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 1-67
Syatri, Jonni. 2013. ”Mushaf Al-Qur’an Kuno di Priangan: Kajian Rasm, Tanda Ayat, dan Tanda Waqaf.” Suhuf, 6 (2), h. 295-320
Syukri, M Abdan. 2005. Mushaf Syekh al-Banjari”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 213-219
Wieringa, Edwin P. 2009. ”Some Javanese Characteristics of a Qur’an Manuscripts from Surakarta”, dalam Stefanie Brinkmann/Beate Wiesmüller, From Codicology to Technology: Islamic Manuscripts and their Place in Scholarship. Berlin: Frank & Timme, 2009, h. 101-129
Yoesqi, Moh. Isom. 2005. ”Penulisan Mushaf Al-Qur'an di Kedaton Kesultanan Ternate”, dalam Fadhal AR Bafadhal dan Rosehan Anwar, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 260-283

Yunardi, E Badri. 2007. ”Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Jakarta,Jurnal Lektur Keagamaan, 5 (1): 1-18

Koran, Majalah Mingguan
Ahmad, Hamid. 1990. “Tangan-tangan Penuh Cinta Menuliskan Kalam Tuhan”. Jakarta: Pelita, 2 Desember.
Ahmad, Hamid. 1991. “Mushaf al-Qur’an Kuno Asli Indonesia”. Jakarta: Pelita, 11 November.
Akbar, Ali. 2008. ”Tradisi Penyalinan Al-Qur'an di Aceh”. Jakarta: Republika, 7 Agustus 2008
Buchari, Machmud. 1991. “Menuju Qur’an Resmi Beriluminasi Khas Indonesia”. Bandung: Mitra Desa, Oktober.
Gallop, Annabel Teh. 2003. ”A Remarkable Penang Qur’an Manuscript”. Heritage Asia, h. 38-41 [Edisi Desember 2003 – Februari 2004]
Hadebae, Rahmat. 1991. “Quran Berbaju Indonesia”. Jakarta: EditorNo. 25, 2 Maret.
Hidayat, Syarif. 1991. “Mushaf sebagai Jiwa Naskah Islami”. Bandung: Mitra Desa, 25 Oktober.

Belum terbit (Makalah, Tesis, dan Disertasi)
Akbar, Ali. 2005. ”Kaligrafi dalam Mushaf Kuno Nusantara: Telaah Naskah-naskah Koleksi Perpustakaan Nasional RI”. Tesis Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Jakarta, 2005
Gallop, Annabel Teh. 2005a. ”Manuscript Art of Kelantan: Between Terengganu and Patani”. Makalah dalam International Seminar: The Spirit and Form of Malay Design, Kuala Lumpur, Muzium Negara, 27-29 Juni.
Gallop, Annabel Teh. 2007. ”Migrating Manuscript Art: Sulawesi Diaspora Styles of Illumination”. Makalah dalam seminar di Universitas Sydney, Sydney, 21 Juni.
Gallop, Annabel Teh. 2007a. “The Art of the Qur’an in Brunei: A Preliminary Note”. Makalah Seminar Sejarah Borneo, Pusat Sejarah Brunei, 3-5 Desember.
Gazali, M. “Ornamen Nusantara: Studi tentang Ornamen Mushaf Istiqlal”. Disertasi Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1998

Bacaan Terkait [tanda * belum terbit]
Fathoni, Ahmad. 2005. ”Mushaf Kuno Qiraat Imam Nafi’ Riwayat Qalun dari Yaman Selatan”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 3 (2): 204-218
Gallop, Annabel Teh. 2004. “Ottoman Influences in the Seal of Sultan Alauddin Riayat Syah of Aceh (r. 1589-1604)”. London, Indonesia and the Malay World, 32 (93): 176-190
Gallop, Annabel Teh. 2005. “Beautifying Jawi: Between Calligraphy and Palaeography”. Asmah Haji Omar (ed.), Malay Images, Universiti Pendidikan Sultan Idris, h. 194-233
Gallop, Annabel Teh. 2005a. ”Artists and Audiences: Illumination in Malay Literary Manuscripts”. Makalah untuk SOAS Southeast Asia Departemental Seminar, 25 Mei.*
Gallop, Annabel Teh. 2006. “Golden Words from Johor: A Royal Malay Letter from Temenggung Daing Ibrahim to Emperor Napoleon III of France”. Makalah dalam International Seminar on Malay Manuscripts, National Archives of Malaysia & National Library of Malaysia, Kuala Lumpur, 10-11 Juli.*
Gallop, Annabel Teh. 2007. “Was the Mousedeer Peranakan? In Search of Chinese Islamic Influences on Malay Manuscript Art”.*
Gallop, Annabel Teh. 2012. “Islamic Manuscript Art of the Philippines” dalam Kawashima Midori (ed.), The Qur’an and Islamic Manuscripts of Mindanao, Institute of Asian Cultures, Shophia University, 2012, pp. 71-98.
Johns, A.H. 1996. “In the Language of the Divine: The Contribution of Arabic” dalam Ann Kumar and John H. McGlynn. 1996. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Lontar Foundation - New York and Tokyo: Weatherhill, Inc.
Yunardi, Badri. 2006. ”Mushaf Qur’an Majid Zu Turjumah Bahasa Urdu”. Jakarta, Jurnal Lektur Keagamaan, 4 (2): 262-292
Zuriati. 2008. ”Ragam Motif pada Iluminasi Naskah-naskah Minangkabau” makalah dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII, Manassa, Universitas Padjadjaran, Bandung, 4-7 Agustus 2008.

Sumber Online