Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Menyalin Qur'an

Berapa lamakah menyalin Qur’an pada masa lampau?

Tidak seperti zaman sekarang, hingga akhir abad ke-19 kebanyakan Qur’an disalin dengan tangan. Memang, sejak pertengahan abad ke-19 telah muncul percetakan mushaf, namun produksinya sangat terbatas, dan pencetakan massal baru terjadi pada awal abad ke-20 seiring dengan kemajuan teknologi percetakan (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/pencetakan-quran.html). Muncul pertanyaan, berapa lamakah menyalin sebuah mushaf pada masa lampau?
Kolofon "Kanjeng Kiai Qur'an" dalam huruf pegon (Arab-Jawa).


“Kanjeng Kiai Qur’an” memberikan (salah satu) jawaban yang sangat jelas. Mushaf pusaka Keraton Yogyakarta ini mulai ditulis pada tanggal 2 Oktober 1798 dan selesai 12 Februari 1799, berarti 4 bulan 10 hari, atau selama 133 hari. Jumlah halaman mushaf pusaka ini sekitar 564 halaman. Dengan demikian, Ki Atma Parwita, penyalin mushaf ini, setiap hari rata-rata menulis 4 halaman lebih. Di halaman akhir mushaf ini terdapat kolofon (catatan naskah) yang menyatakan dengan jelas awal dan akhir penulisannya. Kolofon dalam aksara pegon (huruf Arab dengan bahasa Jawa) berbunyi:

Kagungan nDalem Qur’an ingkang nerat Abdi Dalem Ki Atma Parwita Hurdenas Sepuh kala wiwit anerat ing dinten Arba’ wanci pukul setengah sewelas tanggal ping selikur ing wulan Rabi’ul Akhir ing tahun Jim Awal angkaning warsa 1725. Kala sampun neratipun ing dinten Salasa wanci pukul setengah sanga tanggal ping nem ing wulan Ramadhan ing Surakarta Adiningrat hadza baladi Jawi.

[Qur’an milik Tuan yang menyalin Abdi Dalem Ki Atma Parwita Hurdenas Sepuh. Mulai disalin pada hari Rabu pukul 10.30 tanggal 21 Rabi’ul Akhir tahun Jim Awal 1725 (2 Oktober 1798). Selesai disalin pada hari Selasa pukul 8.30 tanggal 6 Ramadan (12 Februari 1799) di Surakarta Adiningrat, negeri Jawa.]

Tulisan Ki Atma Perwita.

Artikel terkait:
thumbnail

Foto mengaji

Tiga foto dari KITLV

"Seorang pembaca al-Quran dan peminum teh di Yogyakarta", lebih kurang tahun 1880. 
Ada sebilah keris di atas bantal. Foto dibuat oleh Kassian Cephas, fotografer istana Yogyakarta, dan dikenal sebagai perintis fotografi Indonesia.

"Dokter mata J. Tijssen yang sudah mengoperasi mata orang Aceh sehingga bisa membaca al-Qur'an". Tahun 1932. 
Melihat foto ini, baru ingat lagi bahwa dahulu anak-anak itu memang telanjang jika bermain sehari-hari! Hingga pertengahan dasawarsa 1970-an, ketika saya kecil, di kampung saya di Purworejo, Jawa Tengah, masih terjadi.

Foto ini sangat terkenal: anak-anak mengaji di serambi sebuah langgar di Jawa, ±1910. 
Di latar depan terlihat beberapa pasang teklek yang hingga tahun 1970-an masih dipakai, sebelum "zaman plastik" masuk pedesaan Indonesia. Sejak itu, alas kaki dari kayu digantikan dengan sandal jepit yang beralas empuk, ringan, dan tidak membuat pegal jari kaki... 
Langgar biasanya terdiri atas dua ruangan. Ruang dalam khusus untuk salat, sedangkan ruang luar (serambi), yang biasanya letaknya lebih rendah, digunakan untuk mengaji atau mengobrol usai salat. Langgar biasanya berupa bangunan panggung dan beralas plupuh (batang bambu yang dicacah), atau papan kayu untuk langgar yang lebih 'mewah'. 

Sumber: Foto 1-2: http://kitlv.pictura-dp.nl/all-images/indeling/detail/start/10?f_trefwoord[0]=Koran
[Terima kasih kepada Bang Suryadi yang berbaik hati menerjemahkan keterangan foto]. Foto 3: Kulit buku Polarising Javanese Society karya MC Ricklefs (Singapore: NUS Press, 2007).

Artikel terkait:

thumbnail

Mushaf Keraton Yogyakarta

Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: 
Melestarikan Tradisi Penyalinan Qur'an

Untuk melestarikan tradisi penyalian Qur’an di istana, Keraton Yogyakarta pada tahun 2011 menerbitkan “Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” yang ditandatangani resmi oleh Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 20 Mei 2011. Dapat dikatakan bahwa Keraton Kesultanan Yogyakarta dalam hal ini merupakan perintis, karena kesultanan lain tampaknya belum ada yang mengawali untuk meneruskan kembali tradisi penyalinan Qur’an di istana. Kaligrafi teks ayat dimodifikasi dari Mushaf Madinah karya Usman Taha. Mushaf ini dicetak oleh Lembaga Percetakan Al-Qur'an (LPQ), Kementerian Agama RI. 
 Iluminasi awal mushaf: Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah.

Model iluminasi “Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” terutama diambil dari mushaf “Kanjeng Kiai Qur’an” yang merupakan mushaf pusaka Kesultanan (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/quran-pusaka-keraton-yogyakarta.html). Untuk lebih memperkaya, beberapa iluminasi dari manuskrip warisan keraton juga dijadikan acuan penghiasan Qur’an ini. 
Tak pelak, Qur’an yang di toko buku dijual dengan harga Rp140.000,- ini merupakan mata rantai dari tradisi penyalinan Qur’an di lingkungan istana kesultanan Nusantara. Dalam kata sambutan, Sultan Hamengkubuwono X menyatakan,

“Adalah suatu kemuliaan yang tak ternilai bagi saya pribadi beserta seluruh kerabat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena memperoleh berkah, rahmat dan ridha-Nya sehingga dapat mewujudkan tekad untuk memelihara dan menjaga serta melestarikan pusaka budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah berumur lebih dari 200 tahun berupa Mushaf Al-Qur’an yang memiliki nilai tiada terkira bagi kehidupan manusia.”


Halaman awal Surah al-Isra'.

 Halaman awal Surah al-Kahf.



thumbnail

Qur'an Pusaka Keraton Yogyakarta

"Kanjeng Kiai Qur’an": Mushaf Pusaka Keraton Yogyakarta

Salah satu Qur’an indah dari kesultanan Nusantara adalah “Kanjeng Kiai Qur’an”, salah satu pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Gambar 1). Qur’an ini berukuran 40 x 28 cm, tebal 575 halaman, saat ini disimpan di Perpustakaan Widya Budaya, di lingkungan Keraton Yogyakarta. Naskah Qur’an ini sangat istimewa, karena setiap halaman beriluminasi nan indah. Iluminasi lebih istimewa terdapat di bagian awal, tengah dan akhir Qur’an. “Kanjeng Kiai Qur’an” pada awalnya adalah milik Kanjeng Gusti Raden Ayu Sekar Kedhaton, putri Sultan Hamengkubuwana II (1772-1828), yang diajari mengaji oleh gurunya, Haji Mahmud, seorang abdi dalem.
Gambar 1. Halaman iluminasi awal “Kanjeng Kiai Qur’an”, 
koleksi Museum Keraton Yogyakarta. [Foto: LPQ].
Penyalin Qur’an ini adalah Ki Atma Perwita, seperti tercantum dalam catatan kolofon berhuruf pegon (Arab-Jawa) di akhir Qur’an:

Kagungan dalem Qur’an ingkang nerat Abdi Dalem Ki Atma Perwita Hurdenas Sepuh kala wiwit anerat ing dinten Arba’ wanci pukul setengah sewelas tanggal ping selikur ing wulan Rabi’ul Akhir ing tahun Jim Awal angkaning warsa 1725. Kala sampun neratipun ing dinten Salasa wanci pukul setengah sanga tanggal ping nem ing wulan Ramadhan ing Surakarta Adiningrat hadza baladi Jawi.
[Qur’an milik Tuan yang menyalin Abdi Dalem Ki Atma Perwita Hurdenas Sepuh. Mulai disalin pada hari Rabu pukul 10.30 tanggal 21 Rabi’ul Akhir tahun Jim Awal 1725 (2 Oktober 1798). Selesai disalin pada hari Selasa pukul 8.30 tanggal 6 Ramadan (12 Februari 1799) di Surakarta Adiningrat, negeri Jawa.]


***
“Kanjeng Kiai Qur’an” sangat mirip dengan sebuah Qur’an lain yang kini menjadi koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Qur’an ini juga disalin di Surakarta, namun, telah mengalami penjilidan ulang, mungkin pada awal abad ke-20. (Lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/quran-museum-purna-bhakti-pertiwi.html)
Gambar 2. Halaman dalam. [Foto: LPQ]

 Gambar 3. Halaman awal juz. [Foto: LPQ]

Gambar 4. Iluminasi tengah mushaf pada awal Surah al-Kahf. [Foto: LPQ]

Gambar 5. Halaman surah-surah pendek di akhir Qur'an. [Foto: LPQ]

Gambar 6. Halaman iluminasi akhir mushaf. [Foto: LPQ]

Gambar 7. Halaman kolofon di bagian akhir mushaf. [Foto: LPQ]

Gambar 8. Sampul mushaf dari kulit. [Foto: LPQ]